Beijing, Radio Bharata Online - Rencana Uni Eropa untuk mengenakan bea masuk tambahan atas impor kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) Tiongkok akan merusak transformasi hijau dan rendah karbonnya sendiri serta respons global terhadap perubahan iklim, kata perencana ekonomi utama Tiongkok pada hari Selasa (18/6).

Komisi Eropa pada tanggal 12 Juni 2024 mengumumkan keputusan awal untuk memberlakukan tarif anti-subsidi sementara untuk kendaraan listrik yang diimpor dari Tiongkok setelah penyelidikan anti-subsidi. Bea masuk yang telah diungkapkan sebelumnya berkisar antara 17,4 persen hingga 38,1 persen, di samping bea masuk standar 10 persen yang sudah berlaku.

"Mengabaikan fakta dan aturan serta mendahului hasil penyelidikan, penyelidikan ini sebenarnya dipersenjatai dan dipolitisasi, membahayakan persaingan usaha yang sehat atas nama perlindungan. Kami dengan tegas menentang hal ini. Praktik telah sepenuhnya membuktikan bahwa proteksionisme perdagangan yang picik bukanlah sebuah pilihan, dan bunga-bunga di rumah kaca tidak akan tahan terhadap angin dan hujan," ujar Li Chao, Juru Bicara Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, perencana ekonomi utama Tiongkok, dalam sebuah konferensi pers di Beijing.

Jubir tersebut mengingatkan bahwa tarif yang diusulkan, jika diterapkan, tidak hanya akan merugikan perusahaan-perusahaan Tiongkok tetapi juga menghambat perkembangan jangka panjang yang sehat dari perusahaan-perusahaan Uni Eropa, yang akan mengganggu dan mendistorsi industri otomotif global dan rantai pasokan, termasuk bagian dalam Uni Eropa.

Dia mencatat bahwa langkah-langkah tersebut tidak hanya akan merugikan kepentingan konsumen Uni Eropa tetapi juga memperburuk ketergantungan Uni Eropa pada bahan bakar fosil asing serta menghambat upaya transformasi hijau dan rendah karbon Uni Eropa.

"Tiongkok mendukung perusahaan otomotif dari semua negara untuk berpartisipasi dalam kompetisi yang adil dan berdedikasi untuk menjaga stabilitas industri otomotif global dan rantai pasokan. Kami berharap Uni Eropa akan berpikir dan bertindak dengan bijaksana, menghormati hukum ekonomi dasar dan aturan Organisasi Perdagangan Dunia, mengindahkan seruan dari industrinya sendiri, memperbaiki praktik-praktiknya yang salah dan kembali ke jalan yang benar dalam kerja sama terbuka dan pembangunan hijau sesegera mungkin," jelas Li.