Bharata Online - Penutupan program Halo China 2025 menegaskan bahwa hubungan Indonesia–Tiongkok telah bergerak melampaui pola kerja sama konvensional yang selama ini didominasi oleh investasi, perdagangan, dan proyek infrastruktur. Acara ini memperlihatkan secara nyata bagaimana diplomasi modern dijalankan melalui pendekatan yang lebih halus, inklusif, dan berorientasi jangka panjang, yakni dengan menempatkan masyarakat sebagai fondasi utama hubungan bilateral. Dalam konteks dinamika global yang sarat ketidakpastian dan persaingan geopolitik, strategi ini justru menjadi keunggulan Tiongkok dalam membangun kepercayaan dan legitimasi internasional, khususnya di Indonesia.
Secara konseptual, Halo China 2025 merupakan praktik nyata diplomasi publik dan soft power sebagaimana dijelaskan oleh Joseph Nye, di mana negara berupaya memengaruhi pihak lain bukan melalui paksaan atau tekanan, melainkan lewat daya tarik budaya, nilai, dan narasi. Tiongkok tampak sangat sadar bahwa persepsi publik Indonesia terhadap kebangkitan Tiongkok akan sangat menentukan kualitas dan keberlanjutan hubungan kedua negara. Karena itu, alih-alih hanya menonjolkan kekuatan ekonomi atau teknologi, Tiongkok memilih membuka ruang dialog lintas budaya yang mudah dipahami dan diakses oleh masyarakat umum, terutama generasi muda.
Pernyataan Duta Besar Wang Lutong mengenai kebangkitan Tiongkok sebagai “fenomena global” memiliki makna strategis yang dalam. Ia tidak hanya menyampaikan fakta tentang pertumbuhan Tiongkok, tetapi juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memahami logika internal Tiongkok sebagai sebuah peradaban tua dengan sistem ideologi, budaya, dan jalur pembangunan yang berbeda dari Barat. Dalam perspektif konstruktivisme hubungan internasional, ajakan ini penting karena identitas dan persepsi memegang peran sentral dalam membentuk hubungan antarnegara. Program Halo China berfungsi sebagai ruang pembentukan makna bersama, di mana Tiongkok tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra yang rasional, terbuka, dan relevan bagi masa depan Indonesia.
Penekanan Dubes Wang pada prioritas pembangunan Tiongkok—inovasi, ekonomi hijau, dan keterbukaan—juga mencerminkan arah kebijakan nyata yang saat ini dijalankan Tiongkok. Data global menunjukkan bahwa Tiongkok memimpin dalam pengembangan energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi baterai, dan manufaktur hijau. Dalam konteks Indonesia yang tengah mendorong transisi energi dan hilirisasi industri, pemahaman publik terhadap arah pembangunan Tiongkok menjadi krusial. Halo China berperan sebagai jembatan awal yang membantu masyarakat Indonesia melihat peluang kerja sama tersebut secara lebih konkret dan rasional, bukan sekadar sebagai jargon kebijakan tingkat elite.
Dari perspektif liberalisme institusional dan konsep complex interdependence, kerja sama antara Kedutaan Besar Tiongkok dan FPCI menunjukkan bahwa hubungan internasional modern tidak lagi dimonopoli oleh negara semata. Aktor non-negara, komunitas kebijakan, dan masyarakat sipil kini memainkan peran penting dalam memperkuat stabilitas hubungan bilateral. Ketika Dr. Dino Patti Djalal menyebut Halo China sebagai salah satu proyek paling menyenangkan dan produktif FPCI, pernyataan ini mencerminkan keberhasilan diplomasi berbasis kolaborasi yang melampaui kepentingan jangka pendek. Hubungan Indonesia–Tiongkok tidak hanya dikelola di ruang diplomasi formal, tetapi juga dirawat melalui interaksi sosial, budaya, dan intelektual.
Jika dibandingkan dengan program-program serupa yang dijalankan di Tiongkok bersama Indonesia, terlihat adanya konsistensi dan timbal balik. Di Tiongkok, kerja sama people-to-people diwujudkan melalui beasiswa, pertukaran pelajar, pusat studi Indonesia di universitas-universitas Tiongkok, hingga festival budaya Indonesia yang rutin digelar. Artinya, Halo China di Indonesia bukanlah proyek sepihak, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas dan simetris. Tiongkok tidak hanya ingin dipahami, tetapi juga menunjukkan kesediaannya untuk memahami Indonesia. Pola ini memperkuat argumen bahwa pendekatan Tiongkok lebih berorientasi pada kemitraan jangka panjang dibandingkan sekadar ekspansi pengaruh.
Dalam kacamata realisme, diplomasi lunak semacam ini juga memiliki nilai strategis yang tinggi. Indonesia sebagai negara kunci di Asia Tenggara memiliki posisi geopolitik yang sangat penting. Namun, alih-alih menggunakan pendekatan koersif atau tekanan politik, Tiongkok memilih membangun kedekatan melalui kepercayaan publik. Ini menjadi pembeda signifikan dibandingkan pendekatan sejumlah kekuatan besar lain yang kerap mengaitkan kerja sama dengan syarat ideologis atau tekanan nilai tertentu. Halo China memperlihatkan bahwa pengaruh tidak selalu harus dibangun melalui kekuatan keras, tetapi justru melalui penerimaan dan rasa saling menghormati.
Keterlibatan generasi muda melalui kompetisi video kreatif juga menunjukkan pemahaman Tiongkok terhadap karakter diplomasi publik kontemporer. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai penerima pesan pasif, melainkan sebagai aktor aktif yang membentuk narasi mereka sendiri. Dengan pendekatan ini, pengalaman, kreativitas, dan interpretasi peserta menjadi medium diplomasi yang jauh lebih efektif dibandingkan propaganda satu arah. Hal ini membuat pesan tentang Tiongkok terasa lebih manusiawi, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Momentum 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok memberikan konteks historis yang kuat bagi Halo China 2025. Program ini menegaskan bahwa hubungan kedua negara telah berevolusi dari sekadar kepentingan pragmatis menuju kemitraan yang berakar pada pemahaman sosial dan budaya. Dengan rencana penunjukan pejabat pariwisata dan pendirian pusat budaya di kedua negara, terlihat jelas bahwa Tiongkok serius membangun fondasi hubungan jangka panjang yang melibatkan masyarakat luas.
Pada akhirnya, Halo China 2025 bukanlah acara simbolik belaka, melainkan cerminan strategi hubungan internasional Tiongkok yang matang, adaptif, dan relevan dengan tantangan zaman. Dengan menggabungkan soft power, diplomasi publik, dan kerja sama people-to-people, Tiongkok berhasil menawarkan model hubungan bilateral yang relatif inklusif dan berorientasi masa depan. Bagi Indonesia, program ini membuka ruang pemahaman yang lebih utuh dan objektif tentang Tiongkok, sehingga kerja sama kedua negara dapat dibangun di atas dasar rasionalitas, saling pengertian, dan kepentingan bersama.