Ningbo, Bharata Online - Para wali kota dan pejabat kota dari berbagai belahan dunia berkumpul pada hari Selasa (3/11) di Ningbo, sebuah kota pelabuhan utama di Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, untuk menghadiri Global Mayors Dialogue (Dialog Wali Kota Global) 2026. Acara ini mengeksplorasi bagaimana keterbukaan dan konektivitas yang lebih luas dapat diwujudkan menjadi peluang nyata bagi pembangunan perkotaan serta kesepakatan konkret.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari hingga Kamis (5/11) ini merupakan bagian dari rangkaian forum pertukaran internasional, dengan para wali kota, diplomat, dan pimpinan organisasi internasional saling berbagi gagasan mengenai cara agar kota dapat tumbuh secara berkelanjutan, melestarikan warisan budaya, memperluas perdagangan, dan tetap terhubung dengan dunia luar.
Semangat pertukaran ide terlihat jelas dalam sesi dialog utama pada hari Selasa (3/11), saat para peserta saling berbagi pengalaman mengenai upaya menjaga agar layanan publik tetap terjangkau serta menyeimbangkan anggaran kota, tantangan yang dihadapi oleh kota mana pun, terlepas dari ukuran maupun tingkat kekayaannya.
Wayne Brown, Wali Kota Auckland, Selandia Baru, mengungkapkan bahwa mempelajari cara kota lain dalam menangani tekanan tersebut telah menjadi kunci kemajuan bagi kotanya sendiri.
"Setiap kota menghadapi tantangan dalam menyediakan layanan dengan biaya yang memuaskan masyarakat. Oleh karena itu, sangat bermanfaat untuk melihat bagaimana kota lain berhasil melakukannya. Ningbo adalah kota yang sukses, begitu pula Auckland saat ini. Keberhasilan ini lahir dari upaya memahami kota lain, memetik pelajaran, serta berupaya keras untuk menyeimbangkan anggaran," ujar Brown.
Pencarian solusi yang efektif tidak terbatas pada aspek keuangan kota saja, tetapi juga mencakup pengelolaan perkotaan yang lebih ramah lingkungan dan cerdas. Lee Fu Haw, Anggota Dewan di Dewan Kota Royal Klang, Malaysia, menyebutkan bahwa perangkat digital dan administrasi tanpa kertas (paperless) merupakan bidang yang dapat memberikan manfaat melalui kerja sama yang lebih erat antar kota.
"Hari ini kami akan membahas koridor hijau. Kami berupaya mencari cara kerja sama yang lebih baik, termasuk dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI), sistem administrasi tanpa kertas, serta pemanfaatan AI untuk pengelolaan kota," katanya.
Bagi Ahmed Wazeery, Sekretaris Jenderal Kegubernuran Suez di Mesir, dialog ini menjadi kesempatan untuk membangun hubungan dengan Ningbo di sektor industri dan pendidikan.
"Bagi kami di Mesir, kami ingin menjalin kerja sama dengan Ningbo. Kami berharap dapat bekerja sama di bidang industri, impor, serta pendidikan," ujar Wazeery.
Penyelenggara telah menjanjikan bahwa dialog tersebut akan menghasilkan capaian konkret, dan pada akhir sesi hari Selasa (3/11), para delegasi berhasil memenuhi janji tersebut. Secara keseluruhan, 14 perjanjian proyek ditandatangani dan "Konsensus Ningbo tentang Pembangunan Kolaboratif" diterbitkan, sebuah deklarasi bersama yang mengikat kota-kota peserta untuk menjalin kerja sama yang berkelanjutan.