Beijing, Bharata Online - Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, pada hari Rabu (4/11) menyerukan kepada enam negara Lancang-Mekong untuk melanjutkan kerja sama yang telah membuahkan hasil selama 10 tahun terakhir dan bersama-sama mengawali "dekade emas" yang baru.
Wang, yang juga merupakan anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, menyampaikan pernyataan tersebut dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Kerja Sama Lancang-Mekong (LMC) ke-11 di Beijing. Pertemuan ini dipimpin bersama oleh Wang Yi dan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.
Mekanisme LMC diluncurkan oleh keenam negara tersebut pada tahun 2016. Nama mekanisme ini diambil dari nama sungai yang disebut sebagai "Lancang" di Tiongkok, dan "Mekong" setelah sungai tersebut mengalir keluar dari Tiongkok dan melintasi Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, serta Vietnam.
Wang menyatakan bahwa Tiongkok siap bekerja sama dengan negara-negara Mekong sesuai dengan arah yang telah ditetapkan oleh para pemimpin mereka, serta mengambil langkah-langkah yang lebih kuat dan terkoordinasi untuk terus memperkuat komunitas Lancang-Mekong dengan masa depan bersama.
Wang menyerukan upaya untuk menjaga Kerja Sama Lancang-Mekong agar tetap berada di garda depan kerja sama regional, menjadikannya tolok ukur bagi solidaritas Global Selatan, serta berkontribusi dalam membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Ia menambahkan, negara-negara Lancang-Mekong perlu memperkuat koordinasi tingkat tinggi mengenai isu-isu inti seperti pembangunan dan keamanan regional, meningkatkan penyelarasan strategi pembangunan, mendorong liberalisasi serta fasilitasi perdagangan dan investasi, dan menghadirkan lebih banyak proyek percontohan yang "kecil namun bermanfaat" bagi kehidupan masyarakat, guna memberikan manfaat yang lebih nyata bagi rakyat.
Menurutnya, penting untuk memperluas kerja sama di bidang-bidang baru seperti ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), manufaktur cerdas, dan pertanian cerdas. Ia juga menyambut baik partisipasi lebih banyak negara Mekong untuk bergabung dengan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO).
Ia mendesak negara-negara Lancang-Mekong untuk menentang campur tangan pihak luar dan hasutan konfrontasi antarblok, menolak pembentukan "lingkaran kecil" yang eksklusif, serta tidak membiarkan bangkitnya kembali militerisme. Ia juga menambahkan bahwa negara-negara tersebut harus meningkatkan upaya bersama dalam memerangi kejahatan lintas negara. Wang menyarankan agar negara-negara tersebut mendorong pembentukan mekanisme kerja sama lintas batas untuk peringatan dini bencana di wilayah Lancang-Mekong, serta bersama-sama meningkatkan kemampuan dalam pencegahan, mitigasi, dan penanggulangan bencana.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos, Thongsavanh Phomvihane, Menteri Luar Negeri Vietnam, Le Hoai Trung, serta Menteri Perencanaan Nasional, Investasi, dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri Myanmar, Aung Kyaw Hoe.
Seluruh pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap kemajuan positif Kerja Sama Lancang-Mekong (LMC) selama satu dekade terakhir, serta mengakui peran penting Tiongkok dalam memimpin dan memajukan kerja sama tersebut.
Para peserta menegaskan kembali komitmen mereka terhadap prinsip hidup bertetangga yang baik dan bersahabat, sikap saling menghormati dan saling percaya, kerja sama yang lebih mendalam, serta hasil yang saling menguntungkan. Mereka juga berkomitmen untuk bersama-sama mendorong pembangunan berkelanjutan dan kemakmuran di kawasan tersebut.
Mereka sepakat untuk memperdalam kerja sama di bidang-bidang prioritas seperti konektivitas, sumber daya air, dan lingkungan, memperluas transformasi digital serta inovasi hijau, serta meningkatkan pertukaran antarwarga dan budaya.
Selain itu, mereka juga sepakat untuk memperkuat tata kelola penanggulangan bencana, meningkatkan koordinasi keamanan, memerangi kejahatan lintas batas, serta menjaga ketenangan di kawasan.
Semua pihak sepakat untuk terus menjalin komunikasi yang erat guna memastikan Pertemuan Pemimpin LMC kelima berjalan dengan sukses dan menghasilkan dampak positif.
Setelah pertemuan berakhir, kedua ketua bersama (co-chair) memaparkan langkah-langkah selanjutnya bagi Kerja Sama Lancang-Mekong dalam sebuah konferensi pers.
"Kerja Sama Lancang-Mekong kini menunjukkan momentum positif dalam pembangunan yang menyeluruh. Tujuannya hanya satu: Tiongkok bersedia bergandengan tangan dengan negara-negara Lancang-Mekong untuk bersama-sama mengupayakan modernisasi," ujar Wang dalam konferensi pers tersebut.
"LMC berfokus pada kemajuan dan kemakmuran bersama, serta masa depan yang kita bangun bersama. Menurut saya, yang terpenting ke depannya adalah bagaimana kita mewujudkan komitmen tersebut ke dalam tindakan kolektif," kata Sihasak.