BEIJING, Bharata Online – Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan dalam penegakan hukum di bidang lingkungan di Tiongkok Hal itu disampaikan Menteri Ekologi dan Lingkungan Tiongkok, Huang Runqiu, di Beijing, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikan Huang kepada wartawan di sela-sela sesi tahunan National People's Congress atau Kongres Rakyat Nasional.
Menurut Huang, kunci utama penegakan hukum lingkungan adalah kemampuan mengidentifikasi masalah secara akurat. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas lingkungan Tiongkok mengintegrasikan berbagai sumber data untuk mendukung proses tersebut.
“Dalam beberapa tahun terakhir kami menggabungkan big data dari pengawasan rutin, pemantauan bergerak, hingga data konsumsi listrik perusahaan. Data tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi AI untuk menyaring dan menemukan potensi pelanggaran secara cepat dan tepat,” kata Huang.
Ia menjelaskan, informasi yang dihasilkan dari sistem tersebut kemudian diberikan kepada petugas penegak hukum sehingga mereka dapat melakukan inspeksi secara lebih terarah.
Pendekatan itu, lanjut Huang, tidak hanya meningkatkan efektivitas pengawasan, tetapi juga mengurangi gangguan terhadap kegiatan operasional perusahaan yang taat aturan.
“Petunjuk berbasis data ini memungkinkan petugas melakukan inspeksi yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, gangguan terhadap operasional normal perusahaan dapat diminimalkan sekaligus meningkatkan efisiensi penegakan hukum,” ujarnya.
Huang menambahkan, penggunaan inspeksi jarak jauh yang didukung teknologi AI juga terbukti meningkatkan kinerja penegakan hukum lingkungan di negara tersebut.
Sepanjang tahun lalu, otoritas lingkungan Tiongkok tercatat melakukan sekitar 204.000 inspeksi di luar lokasi. Jumlah inspeksi langsung di lapangan menurun sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, tingkat akurasi dalam mengidentifikasi pelanggaran meningkat sekitar 10 hingga 25 poin persentase.
“Kami berupaya memastikan bahwa perusahaan yang mematuhi aturan tidak diganggu secara tidak semestinya, sementara terhadap pihak yang melanggar hukum tetap ditegakkan keadilan,” kata Huang.
Selain itu, Tiongkok juga telah mengembangkan berbagai skenario penerapan AI untuk pengawasan ekologi dan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.
Teknologi tersebut, antara lain, digunakan untuk mendeteksi pembuangan limbah berbahaya secara ilegal serta memantau emisi kendaraan bermotor, khususnya truk diesel berbobot besar.
“Pemanfaatan AI dalam bidang-bidang tersebut telah menunjukkan hasil yang sangat baik,” ujar Huang.
Sementara itu, sesi keempat 14th National People's Congress, lembaga legislatif nasional Tiongkok, resmi berakhir pada Kamis di Beijing.