New York, Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok menyerukan untuk memajukan transisi politik yang inklusif di Suriah, memerangi terorisme dengan tegas, dan meningkatkan bantuan kemanusiaan dan pembangunan.

Fu Cong, Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan terbuka Dewan Keamanan PBB tentang masalah Suriah pada hari Senin (22/6) di markas besar PBB di New York City.

Dalam sambutannya, Fu mengajukan tiga poin usulan mengenai situasi saat ini. Pertama, memastikan inklusivitas adalah prinsip dasar transisi politik. Kedua, menjaga keamanan adalah prasyarat penting untuk rekonstruksi nasional. Ketiga, meningkatkan taraf hidup masyarakat harus menjadi prioritas mendesak.

Fu menunjukkan bahwa situasi keamanan saat ini di Suriah tetap rapuh, dengan pasukan teroris terus melakukan serangan.

Utusan Tiongkok itu juga menekankan bahwa pemerintah transisi Suriah harus mengambil langkah-langkah yang lebih tegas dan efektif untuk tanpa henti memerangi semua organisasi teroris yang terdaftar di Dewan Keamanan, termasuk Gerakan Islam Turkistan Timur. Semua pihak harus secara proaktif menolak standar ganda dalam pemberantasan terorisme dan menghindari pemberantasan terorisme selektif.

Menurut Fu, Suriah telah mengalami perang dan kekacauan selama bertahun-tahun, dan menghadapi tantangan berat dalam hal ketahanan pangan, pemukiman kembali pengungsi, dan pembangunan ekonomi. Ia mengatakan, banjir baru-baru ini di provinsi Raqqa dan Deir al-Zour di Suriah telah berdampak buruk pada mata pencaharian masyarakat.

Ia menekankan bahwa Tiongkok menyerukan kepada komunitas internasional untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan dan pembangunan ke Suriah.

"Dataran Tinggi Golan diakui secara internasional sebagai wilayah Suriah yang diduduki. Operasi militer Israel di zona pemisah tidak memiliki dasar dalam hukum internasional. Israel harus segera mengakhiri semua operasi militer di dalam wilayah Suriah dan menarik diri dari wilayah Suriah yang diduduki sesegera mungkin," ujarnya.