Tokyo, Bharata Online - Seorang ekonom terkemuka Jepang pada hari Minggu (16/11) memproyeksikan bahwa Jepang berpotensi mengalami kerugian ekonomi lebih dari 2,2 triliun yen (sekitar 238 triliun rupiah) akibat penurunan drastis jumlah wisatawan Tiongkok.

Takahide Kiuchi, Ekonom Eksekutif di Nomura Research Institute, membuat penilaian tersebut beberapa jam setelah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tiongkok secara resmi mengimbau warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke Jepang, dengan alasan masalah keamanan. Peringatan tersebut menyusul imbauan serupa yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada hari Jumat (14/11) lalu.

Kiuchi mengatakan bahwa penurunan tajam jumlah wisatawan Tiongkok dapat mengurangi PDB Jepang sebesar 0,36 persen, yang menyoroti potensi kerentanan ekonomi seiring munculnya pariwisata sebagai industri kunci bagi Jepang.

Selain itu, wisatawan Tiongkok telah menjadi pengeluar uang terbanyak di pasar pariwisata Jepang. Menurut statistik Badan Pariwisata Jepang, wisatawan Tiongkok memimpin semua wisatawan mancanegara dalam hal pengeluaran di Jepang pada tahun 2024.

Menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Jepang, tujuan ekspor terbesar kedua, dan sumber impor terbesar, dengan total perdagangan bilateral sebesar 308,3 miliar dolar AS (sekitar 5.160 triliun rupiah) pada tahun 2024, termasuk 156,25 miliar dolar AS (sekitar 2.615 triliun rupiah) dalam bentuk ekspor Jepang ke Tiongkok.