Nanjing, Radio Bharata Online - Lebih dari 300 tamu, termasuk para pemenang Nobel di bidang ekonomi, ekonom Tiongkok dan internasional ternama, serta para wirausahawan, mendiskusikan bagaimana ekonomi digital dan teknologi cerdas dapat memimpin pertumbuhan perusahaan dan transformasi ekonomi dalam acara "Nobel Laureates in Economics and Entrepreneurs Dialogue" di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada hari Sabtu (22/6) lalu.
Para tamu yang berpartisipasi mengungkapkan keyakinan bahwa digitalisasi dan kebangkitan komputasi cerdas telah menjadi mesin baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi karena pesatnya perkembangan big data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan serta teknologi lainnya.
Para peserta mengatakan bahwa cara bagaimana perusahaan secara efektif memanfaatkan teknologi ini, mengoptimalkan proses pengambilan keputusan, dan meningkatkan efisiensi operasional akan menjadi kunci persaingan di masa depan.
Michael Spence, peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, menekankan bahwa perkembangan baru dalam AI akan dipimpin oleh dua negara secara khusus.
"Dua pusat kekuatan dalam kecerdasan buatan adalah Tiongkok dan Amerika Serikat. Hal ini tidak akan berubah dalam waktu dekat. Alasannya adalah, pertama, orang-orang yang sangat berbakat," ujar sang ekonom.
Spence menambahkan bahwa AI harus dipahami sebagai lebih dari sekadar teknologi otomasi sederhana, tetapi teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi kerja di berbagai bidang.
Para peserta juga menganalisis secara mendalam dinamika ekonomi berbasis data dan mendiskusikan bagaimana perusahaan dapat mempertahankan daya saing dan inovasi di pasar global yang terus berubah. Beberapa peserta menyoroti bahwa di era ekonomi digital, perusahaan perlu memberikan perhatian yang lebih besar pada pengembangan bakat dan pembangunan tim untuk beradaptasi.
"Berdasarkan berbagai statistik, permintaan akan talenta digital sangat tinggi. Baik itu mobile internet, big data, atau kecerdasan buatan, masalah talenta harus menjadi perhatian utama, tidak peduli bagaimana keadaan berubah. Kita harus bertindak cepat untuk mengembangkan tenaga operasional, talenta manajemen, dan talenta kepemimpinan digital, dengan pertimbangan dari berbagai tingkatan," ujar Zhao Shuming, Profesor Senior Humaniora dan Ilmu Sosial di Universitas Nanjing.