Bharata Online - Peluncuran rute penerbangan langsung terpanjang di dunia antara Shanghai dan Buenos Aires melalui Auckland bukan sekadar kabar transportasi udara, melainkan sebuah peristiwa geopolitik dan geoekonomi yang sarat makna dalam dinamika hubungan internasional kontemporer.
Jika dibaca secara lebih dalam, penerbangan China Eastern Airlines MU745 ini mencerminkan bagaimana Tiongkok menggunakan konektivitas sipil, teknologi, dan logistik global sebagai instrumen strategis untuk membangun pengaruh, memperdalam interdependensi, serta merestrukturisasi arsitektur hubungan global di luar pola lama yang selama ini didominasi Barat.
Dalam perspektif liberalisme institusional, penerbangan ini adalah contoh konkret bagaimana peningkatan konektivitas fisik dapat mendorong kerja sama internasional, pertukaran masyarakat, dan integrasi ekonomi lintas kawasan. Dengan memangkas waktu tempuh lebih dari empat jam dibandingkan rute tradisional melalui Eropa atau Amerika Utara, Tiongkok secara nyata menurunkan biaya transaksi baik bagi pebisnis, wisatawan, akademisi, maupun diaspora.
Biaya waktu, energi, dan ketidakpastian yang selama puluhan tahun menjadi hambatan hubungan Asia–Amerika Selatan kini dipangkas secara signifikan. Hal ini selaras dengan teori interdependensi kompleks yang menekankan bahwa semakin intens koneksi lintas negara, semakin besar insentif bagi stabilitas dan kerja sama jangka panjang.
Namun, makna strategis rute ini menjadi jauh lebih tajam jika dibaca melalui lensa realisme dan geoekonomi. Selama dekade pasca-Perang Dunia II, arus utama konektivitas global baik penerbangan, pelayaran, maupun keuangan hampir selalu melewati simpul-simpul Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Ketergantungan pada bandara transit di Frankfurt, Paris, London, atau kota-kota Amerika Utara secara tidak langsung menempatkan negara-negara Global South dalam orbit infrastruktur Barat.
Dengan memilih rute selatan melalui Auckland, Tiongkok secara sadar membangun jalur alternatif yang relatif bebas dari pengaruh geopolitik Atlantik Utara. Ini adalah bentuk “de-risking” versi Tiongkok, bukan dengan memutus hubungan, melainkan dengan menciptakan pilihan baru.
Argentina dan Amerika Selatan sendiri memiliki arti strategis besar bagi Tiongkok. Dalam dua dekade terakhir, Tiongkok telah menjadi mitra dagang utama atau salah satu mitra terbesar bagi banyak negara Amerika Latin, terutama dalam komoditas strategis seperti kedelai, daging, energi, litium, dan mineral kritis.
Argentina, misalnya, adalah pemain penting dalam segitiga litium dunia bersama Bolivia dan Chile, mengingat litium adalah komoditas vital bagi transisi energi dan industri baterai global. Penerbangan langsung ini bukan hanya memudahkan wisatawan, tetapi juga mempercepat mobilitas pebisnis, teknokrat, dan negosiator yang terlibat dalam proyek-proyek strategis tersebut.
Dari sudut pandang konstruktivisme, penerbangan ini juga membentuk ulang persepsi dan imajinasi geopolitik masyarakat. Selama ini, Amerika Selatan kerap dipandang “jauh” dari Asia Timur, baik secara geografis maupun psikologis. Ketika jarak tempuh kini dapat ditekan menjadi sekitar 25 jam dengan satu nomor penerbangan dan satu pesawat, jarak simbolik itu ikut menyempit.
Pernyataan para pejabat Selandia Baru yang menekankan “menghubungkan teman-teman baik” menunjukkan bagaimana infrastruktur fisik menciptakan narasi baru tentang kedekatan, persahabatan, dan peluang bersama. Dalam hubungan internasional modern, persepsi publik dan people-to-people contact sama pentingnya dengan perjanjian resmi antarnegara.
Keterlibatan Selandia Baru sebagai titik singgah juga tidak bisa dibaca secara netral. Auckland diuntungkan secara ekonomi melalui peningkatan arus penumpang, pariwisata, dan status sebagai hub strategis selatan. Bagi Tiongkok, ini adalah contoh diplomasi pragmatis ketika bekerja sama dengan negara Barat yang relatif moderat dan terbuka, tanpa konfrontasi ideologis, untuk mencapai kepentingan bersama.
Kebijakan visa yang dilonggarkan bagi wisatawan Tiongkok, sebagaimana disampaikan Menteri Pariwisata Selandia Baru, menunjukkan bahwa daya tarik pasar Tiongkok mampu mengubah kebijakan domestik negara lain secara damai merupakan sebuah bentuk soft power ekonomi yang efektif.
Data yang disampaikan Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok memperkuat argumen ini. Peningkatan penerbangan penumpang ke Amerika Latin lebih dari 32 persen dan ke Afrika lebih dari 26 persen pada musim 2025–2026 menunjukkan pergeseran orientasi global Tiongkok yang semakin kuat ke Global South.
Ini sejalan dengan narasi kerja sama Selatan–Selatan yang selama ini digaungkan Beijing, sehingga konektivitas tidak lagi bergantung pada pusat-pusat lama kekuatan dunia. Rute Shanghai–Buenos Aires menjadi simbol konkret bahwa globalisasi tidak mati, melainkan sedang mengalami reorientasi geografis.
Jika dibandingkan dengan pendekatan AS dan sebagian Eropa yang belakangan cenderung proteksionis, penuh pembatasan visa, dan securitization terhadap mobilitas global, langkah Tiongkok ini tampak kontras. Ketika Barat sering berbicara tentang “ancaman”, “risiko”, dan “pembatasan”, Tiongkok justru menawarkan kemudahan, efisiensi, dan akses. Dalam politik global, narasi ini memiliki dampak jangka panjang terhadap preferensi negara-negara berkembang, termasuk dalam memilih mitra strategis.
Peluncuran rute Guangzhou–Madrid oleh China Southern Airlines memperkuat gambaran besar ini. Madrid diposisikan sebagai gerbang Eropa sekaligus jembatan menuju Amerika Latin, memanfaatkan kedekatan historis dan linguistik Spanyol dengan kawasan tersebut.
Dengan menyediakan koneksi cepat dari kota-kota Tiongkok selatan ke Eropa dan selanjutnya ke Amerika Latin, Tiongkok secara sistematis membangun jaringan udara yang menopang arsitektur perdagangan, pariwisata, dan diplomasi globalnya. Ini bukan langkah sporadis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang keterbukaan dan ekspansi pengaruh non-militer.
Oleh karena itu, penerbangan terpanjang di dunia ini adalah metafora dari ambisi Tiongkok di panggung global untuk menembus jarak, memotong hambatan lama, dan membangun jalur baru yang lebih efisien dan inklusif. Ia menunjukkan bahwa kekuatan di abad ke-21 tidak hanya diukur dari kapal induk atau sanksi ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menghubungkan manusia, pasar, dan gagasan lintas benua.
Bagi masyarakat awam, mungkin ini sekadar kabar penerbangan baru. Namun bagi pembacaan hubungan internasional, ini adalah sinyal jelas bahwa pusat gravitasi global perlahan bergeser, dan langit secara harfiah menjadi arena baru dari transformasi geopolitik dunia.