Jakarta, Bharata Online – Jika ada yang meragukan tempat istimewa musik pop Mandarin di hati masyarakat Indonesia, konser Michael Wong (Guang Liang) pada Sabtu malam, 6 Juni 2026 di Jakarta adalah jawabannya. Sejak lagu pertama "Tian Shi" berkumandang, ribuan penonton langsung bernyanyi bersama, menciptakan gelombang suara yang menyatukan mereka layaknya paduan suara raksasa. Spike Air Dome PIK 2 malam itu berubah menjadi ruang KTV raksasa, membuktikan lagu Mandarin tetap menjadi "bahasa hati" lintas generasi. Lebih dari sekadar hiburan, konser ini menjadi barometer nyata bahwa pasar musik Mandarin di Indonesia masih bertahan dan terus bergeliat kuat yang ditandai antusiasme luar biasa serta dominasi percakapan di media sosial.
Konser ini juga menunjukkan bahwa pasar artis Mandarin, terutama yang populer di era 1990-an dan 2000-an, masih cukup menjanjikan. Generasi penggemar mereka yang mayoritas milenial kini berada di usia lebih mapan, memiliki waktu dan kemampuan finansial untuk menonton konser, terbukti dari dominasi penonton milenial malam itu. Bukan sekadar nostalgia, malam itu menjadi apresiasi nyata dari segmen pasar yang berdaya beli. Sebuah sinyal positif bagi promotor untuk terus menghadirkan nama-nama besar dari era keemasan musik Mandarin.
Selain mengajak bernyanyi bersama, sepanjang konser Michael banyak berbicara pada para penonton. Tidak hanya menggunakan bahasa Mandarin, tetapi juga bahasa Inggris dan Indonesia. Michael mengatakan bahwa nama Mandarinnya Guang Liang yang dikenal luas sebenarnya jarang digunakan sebelum ia menjadi penyanyi. Walaupun Guang Liang memang nama aslinya, sejak kecil di keluarga dan sekolah ia dipanggil Michael. Setiap orang yang mamanggilnya Michael adalah teman dekat atau keluarga. Malam ini ia mendapat banyak teman dan keluarga baru karena para penonton memanggilnya Michael.
Selama berkarir di bidang musik Mandarin selama lebih dari 30 tahun, Michael Wong memiliki banyak sekali lagu hits yang mayoritas adalah ciptaannya sendiri. Michael bercerita bahwa awalnya ia tidak tahu ia bisa menciptakan lagu dan biasa menyanyikan lagu orang lain ketika ikut lomba nyanyi. Suatu ketika guru vokalnya menyarankannya untuk menyanyikan lagu sendiri ketika ikut lomba. Jadilah lagu ciptaannya “Ru Guo Ni Hai Ai Wo” saat ia berusia 22 tahun.
Di tengah derasnya konser artis Barat, Korea, dan Jepang yang membanjiri Indonesia, Color Asia Live justru memilih untuk konsisten mengundang artis Mandarin. Cynthia Tan dari Color Asia Live menjelaskan bahwa salah satu alasannya bersifat personal: ia dan suaminya dibesarkan di keluarga penggemar artis Mandarin. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa Michael Wong adalah artis Mandarin pertama yang percaya kepada mereka sebagai promotor di Indonesia.
Color Asia Live berharap akan terus menghadirkan artis Mandarin ke Indonesia agar penggemar musik Mandarin di Tanah Air tidak perlu pergi ke luar negeri untuk menonton konser mereka.
Yi Yan, influencer Tiongkok di Indonesia yang mengelola kanal Yin Ni Sheng Huo Zhi Nan (Panduan Hidup di Indonesia) juga menonton konser Michael Wong malam itu. Yi Yan yang akrab disapa Yan Ge telah tinggal belasan tahun di Indonesia mengungkapkan kesenangannya bisa menonton konser artis Mandarin di Indonesia. Ini juga menunjukkan semakin eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok di bidang ekonomi dan budaya.
“Semakin banyak penyanyi Mandarin yang mangadakan konser di sini merupakan kemajuan bagi kebutuhuan hiburan dan budaya. Saya ingat belasan tahun lalu masih belum sebanyak ini. Sekarang sudah semakin banyak. Dalam lingkup yang lebih luas, ini menunjukkan hubungan di bidang ekonomi dan budaya yang semakin erat antara Indonesia dan Tiongkok, menjadikan semakin banyak seniman Mandarin yang datang ke sini karena sekarang banyak orang Tiongkok yang hidup dan bekerja di Indonesia. Ini juga merupakan perpaduan budaya Mandarin dan lokal. Saya rasa ini sangat baik. Sangat menyenangkan,” jelas Yi Yan.