Beijing, Bharata Online - Tiongkok dan Swiss menandatangani protokol untuk meningkatkan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) di antara kedua negara pada hari Jumat (30/10). Menurut Kementerian Perdagangan Tiongkok, langkah ini diharapkan dapat memperluas akses pasar, mendorong investasi dua arah, serta memperdalam kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral.
Berdasarkan protokol tersebut, kedua belah pihak akan membuat komitmen berstandar tinggi untuk lebih membuka perdagangan barang, jasa, dan investasi. Selain itu, aturan yang mencakup ketentuan asal barang, fasilitasi perdagangan, hambatan teknis dalam perdagangan, perdagangan digital, persaingan usaha, serta perdagangan dan pembangunan berkelanjutan juga akan ditingkatkan.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa peningkatan itu diharapkan dapat memberikan dukungan kelembagaan yang lebih kuat bagi liberalisasi dan fasilitasi perdagangan serta investasi bilateral. Hal ini sekaligus menegaskan komitmen kedua negara terhadap perdagangan bebas, kerja sama terbuka, dan sistem perdagangan multilateral berbasis aturan di tengah ketidakpastian global.
Seorang pejabat kementerian tersebut mencatat bahwa Swiss merupakan mitra dagang terbesar ketujuh bagi Tiongkok di Eropa, sementara Tiongkok adalah mitra dagang terbesar bagi Swiss di Asia.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa perjanjian yang telah ditingkatkan ini akan membantu membuka potensi yang lebih besar bagi perdagangan dan investasi bilateral, serta menghadirkan peluang baru bagi dunia usaha dan masyarakat di kedua negara.
Data menunjukkan bahwa selama lima tahun terakhir, volume perdagangan bilateral tahunan antara Tiongkok dan Swiss rata-rata melampaui 50 miliar dolar AS (sekitar 907 triliun rupiah). Dari Januari hingga September tahun ini, perdagangan bilateral mencapai 89 miliar dolar AS (sekitar 1.614 triliun rupiah), meningkat 127 persen secara tahunan.
Tiongkok dan Swiss menandatangani FTA awal mereka pada tahun 2013, dan perjanjian tersebut mulai berlaku pada Juli 2014. Kedua negara memulai negosiasi untuk meningkatkan perjanjian tersebut pada September 2024 dan mengumumkan penyelesaiannya pada Agustus 2026, setelah melalui lima putaran perundingan.
Kementerian tersebut mengungkapkan bahwa menyusul penandatanganan ini, kedua belah pihak akan menyelesaikan prosedur persetujuan hukum domestik masing-masing dan berupaya agar perjanjian yang telah ditingkatkan tersebut dapat segera diberlakukan.