Bharata Online - Ketika banyak negara Barat masih berkutat pada dominasi narasi lama tentang pariwisata dan industri kreatif, Tiongkok justru melangkah lebih jauh dengan membangun ekosistem baru yang mengintegrasikan budaya, teknologi, dan pengalaman wisata dalam satu paket strategis yang sulit ditandingi.

Festival film maritim yang diluncurkan oleh Adora Cruises bersama Changchun Film Group bukan sekadar acara hiburan di atas kapal pesiar, melainkan representasi nyata dari bagaimana Tiongkok mengembangkan kekuatan lunak (soft power) secara sistematis dan terencana, bahkan hingga ke sektor yang selama ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan Barat.

Dalam perspektif hubungan internasional, fenomena ini dapat dibaca melalui lensa teori soft power yang dipopulerkan oleh Joseph Nye, tentang kekuatan suatu negara yang tidak hanya ditentukan oleh militer dan ekonomi, tetapi juga oleh daya tarik budaya dan kemampuannya membentuk preferensi global.

Namun, yang membedakan Tiongkok dari Amerika Serikat (AS) dan Barat adalah pendekatan implementatifnya yang jauh lebih konkret dan terintegrasi. Jika Barat cenderung mengandalkan industri hiburan global seperti Hollywood sebagai instrumen soft power yang bersifat pasar bebas, maka Tiongkok menggabungkan peran negara, industri, dan inovasi pengalaman dalam satu desain strategis yang terpadu.

Festival film di atas kapal pesiar seperti yang berlangsung di kapal Adora Magic City menjadi bukti bagaimana Tiongkok tidak hanya mengekspor konten budaya, tetapi juga menciptakan ruang pengalaman imersif yang membuat wisatawan menjadi bagian langsung dari narasi tersebut. Ini adalah lompatan paradigma dari sekadar konsumsi budaya menjadi partisipasi budaya.

Para wisatawan tidak hanya menonton film, tetapi juga berjalan di karpet merah, berinteraksi dengan aktor, dan mengalami langsung atmosfer festival. Dalam kerangka ekonomi pengalaman (experience economy), strategi ini memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan model konvensional yang masih banyak digunakan di Barat.

Lebih jauh lagi, keberhasilan program ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan infrastruktur dan kebijakan negara yang sangat progresif. Shanghai, sebagai pusat pelayaran internasional, menunjukkan bagaimana Tiongkok mampu mengintegrasikan kebijakan bebas visa, efisiensi layanan imigrasi, dan pengembangan pelabuhan modern untuk menciptakan arus wisatawan global yang masif.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 20.000 penumpang dilayani hanya dalam satu akhir pekan atau dua hari, dengan mayoritas berasal dari luar negeri. Ini menegaskan bahwa Tiongkok tidak hanya menarik secara domestik, tetapi juga semakin kompetitif sebagai destinasi global.

Dalam kerangka teori liberalisme ekonomi, kebijakan bebas visa yang diperluas hingga mencakup puluhan negara mencerminkan strategi keterbukaan yang selektif namun efektif. Berbeda dengan narasi Barat yang sering mengasosiasikan keterbukaan dengan liberalisasi penuh, Tiongkok justru menunjukkan bahwa kontrol negara yang kuat dapat berjalan beriringan dengan keterbukaan ekonomi yang terukur.

Hasilnya adalah pertumbuhan pariwisata yang stabil, dengan lebih dari 10 juta perjalanan penumpang diproses di pelabuhan Shanghai tahun ini, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, kekuatan utama Tiongkok justru terletak pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai sektor dalam satu ekosistem yang saling memperkuat. Konsep “film plus” yang diusung dalam festival ini mencerminkan pendekatan lintas sektor yang menghubungkan industri film, pariwisata, teknologi, dan ekonomi kreatif.

Dalam perspektif teori pembangunan negara (developmental state), ini adalah contoh klasik bagaimana negara memainkan peran aktif dalam mengarahkan industrialisasi dan inovasi. Berbeda dengan AS yang cenderung menyerahkan inovasi pada mekanisme pasar, Tiongkok secara aktif merancang dan mengorkestrasi kolaborasi antar sektor untuk mencapai tujuan strategis nasional.

Dominasi Adora Cruises di pasar domestik dengan pangsa sekitar 40 persen juga menunjukkan bahwa Tiongkok tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi perusahaan asing, tetapi telah berkembang menjadi pemain utama yang mampu bersaing secara global.

Dengan lebih dari 350 pelayaran dan rute yang mencakup 30 destinasi populer, perusahaan ini tidak hanya memperkuat posisi domestik, tetapi juga membangun jaringan internasional yang semakin luas. Ini merupakan indikasi bahwa Tiongkok sedang membangun hegemoni baru di sektor pariwisata maritim, yang selama ini didominasi oleh perusahaan Eropa dan Amerika.

Jika dibandingkan dengan Barat, pendekatan Tiongkok ini terlihat jauh lebih adaptif dan inovatif. Industri kapal pesiar Barat cenderung berfokus pada kemewahan dan destinasi, sementara Tiongkok menambahkan dimensi budaya dan interaksi sebagai nilai utama. Ini menciptakan diferensiasi yang kuat dan sulit ditiru dalam jangka pendek. 

Dalam konteks persaingan global, diferensiasi semacam ini menjadi kunci untuk memenangkan hati konsumen internasional. Selain itu, keberhasilan menarik wisatawan dari berbagai negara, termasuk Kanada, Inggris, Rusia, dan Filipina, menunjukkan bahwa narasi negatif Barat tentang Tiongkok tidak sepenuhnya efektif dalam memengaruhi persepsi publik global.

Pengalaman langsung yang positif justru menjadi alat diplomasi yang lebih kuat daripada propaganda politik. Ini sejalan dengan konsep konstrutivisme (constructivism) dalam hubungan internasional yang menekankan pentingnya persepsi, identitas, dan interaksi sosial dalam membentuk realitas global.

Dari sisi teknologi dan industri, keberadaan kapal pesiar domestik seperti Adora Magic City juga mencerminkan kemajuan manufaktur Tiongkok yang semakin mandiri.

Dengan kapasitas lebih dari 5.000 penumpang dan teknologi canggih, kapal ini menjadi simbol bahwa Tiongkok tidak lagi bergantung pada Barat dalam sektor industri berat bernilai tinggi. Ini sejalan dengan strategi nasional Tiongkok untuk mencapai kemandirian teknologi dan meningkatkan posisi dalam rantai nilai global.

Secara keseluruhan, festival film maritim ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi besar Tiongkok dalam membangun pengaruh global melalui kombinasi budaya, ekonomi, dan teknologi. Ini adalah bentuk baru dari diplomasi yang lebih halus namun efektif, yang tidak hanya menarik perhatian dunia, tetapi juga secara perlahan menggeser pusat gravitasi global dari Barat ke Timur.

Ketika AS dan Barat masih mengandalkan dominasi lama yang semakin terfragmentasi, Tiongkok justru menunjukkan bahwa masa depan kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuatan militer terbesar, tetapi oleh siapa yang mampu menciptakan pengalaman, membangun konektivitas, dan menginspirasi dunia.

Dalam konteks ini, langkah Tiongkok melalui inovasi seperti festival film maritim bukan hanya sekadar keberhasilan industri, tetapi juga sinyal kuat bahwa peta kekuatan global sedang mengalami transformasi fundamental yang sulit untuk dibendung.