Jinan, Radio Bharata Online - Bank sentral Tiongkok mengumumkan pada hari Rabu (12/6) bahwa mereka akan mendorong implementasi kebijakan pinjaman ulang untuk perumahan yang terjangkau untuk meningkatkan de-stocking rumah-rumah komersial.

People's Bank of China membuat pengumuman tersebut pada sebuah konferensi yang diadakan di Jinan, ibu kota Provinsi Shandong, Tiongkok timur.

Tiongkok telah menyiapkan fasilitas pinjaman ulang senilai 300 miliar yuan (sekitar 673 triliun rupiah), mengikuti model operasi berbasis pasar yang dipimpin oleh pemerintah, untuk mendukung proyek perumahan yang disubsidi pemerintah.

Dana berbiaya rendah akan diberikan kepada 21 bank nasional untuk membantu mengurangi persediaan perumahan di seluruh Tiongkok.

"Kami membangun fasilitas pinjaman ulang senilai 300 miliar yuan (sekitar 673 triliun rupiah) untuk mendukung BUMN lokal untuk membeli rumah-rumah komersial yang telah dibangun namun belum terjual. Rumah-rumah ini kemudian akan digunakan sebagai perumahan yang terjangkau untuk dijual atau disewakan. Untuk setiap 100 yuan (sekitar 224 ribu rupiah) yang dipinjamkan oleh bank komersial, bank sentral akan menyediakan 60 yuan (sekitar 135 ribu rupiah) dari pokok pinjaman. Ini berarti bank-bank komersial dapat memberikan pinjaman dengan total hingga 500 miliar yuan (sekitar 1.122 triliun rupiah)," kata Pan Gongsheng, Gubernur Bank Sentral Tiongkok.

Para pejabat bank sentral dan National Financial Regulatory Administration, salah satu badan pengatur keuangan negara, mengatakan bahwa selama proses implementasi, jaminan institusional dan pengawasan internal dan eksternal harus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan program ini dan menghindari penambahan hutang tersembunyi pemerintah daerah.

"Pemerintah kota harus memilih tidak lebih dari dua badan usaha milik negara lokal sebagai entitas pembeli. Perusahaan yang dipilih dan grup afiliasinya tidak boleh menjadi kendaraan pembiayaan pemerintah daerah (LGFV) dan harus memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit dari bank-bank komersial. Kita harus mematuhi operasi-operasi yang berorientasi pasar untuk menghindari penambahan hutang tersembunyi pemerintah daerah," ujar Zou Lan, Kepala Departemen Kebijakan Moneter Bank Sentral Tiongkok.

"Dana pinjaman harus disimpan di rekening terpisah, dipertanggungjawabkan secara terpisah, diperuntukkan untuk tujuan-tujuan tertentu dan dikelola di bawah sebuah sistem yang tertutup. Bank harus memberikan pinjaman secara ketat sesuai dengan kemajuan pembelian perumahan komersial dan persyaratan untuk mempraktekkan pembayaran yang dipercayakan," kata Li Wenhong, Direktur Departemen Pengawasan Administrasi Bank Besar.

Kebijakan pemberian pinjaman kembali berlaku untuk semua kota di seluruh Tiongkok dan akan disesuaikan dan ditingkatkan di masa depan berdasarkan kebutuhan nyata dan kondisi implementasi.