BEIJING, Bharata Online – Di tengah guncangan energi yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah, Tiongkok, meskipun bergantung pada minyak impor, telah berhasil menyerap volatilitas pasar energi, melaporkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang didukung oleh struktur energi yang terdiversifikasi dan tangguh.
Tiongkok melaporkan peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5% dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal pertama tahun 2026. Periode tiga bulan ini, juga menunjukkan pertumbuhan produksi industri dan energi yang lebih baik dari perkiraan.
Tiongkok mengimpor sebagian besar minyaknya dari negara lain. Ekonominya yang bernilai $20 triliun bergantung lebih dari 70% pada minyak impor, menjadikan negara ini sebagai importir minyak terbesar di dunia.
Gangguan pasar energi global selama sebulan terakhir, telah memberikan tekanan pada perekonomian di Asia dan Eropa. Tetapi Tiongkok sejauh ini berhasil mengurangi risiko pasar melalui cadangan strategisnya, yakni diversifikasi sumber impor, penguatan produksi energi domestik, dan pertumbuhan pesat sumber energi non-fosil.
Meskipun Tiongkok tidak pernah secara resmi mengungkapkan skala pasti cadangan minyak strategisnya, Jiang Bing, mantan kepala Administrasi Energi Nasional, Jumat lalu kepada CMG mengatakan, bahwa cadangannya melimpah.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan Tiongkok memiliki 1,2 miliar barel minyak mentah dalam penyimpanan.
Menurut Reuters, pada tahun 2025, cadangan minyak Tiongkok dapat memenuhi kebutuhan negara tersebut setidaknya selama empat bulan, jauh melebihi standar 90 hari IEA, untuk cadangan minyak di antara negara-negara anggotanya.
Tidak seperti negara-negara ekonomi besar Asia lainnya, Tiongkok menghindari ketergantungan pada satu jalur transportasi atau satu pemasok, untuk impor minyaknya. Misalnya jaringan pipa Tiongkok, mencegahnya untuk sepenuhnya bergantung pada impor melalui jalur laut. (Sumber: CGTN)