GENEVA, Bharata Online - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkonfirmasi tujuh kasus, dua kasus yang dikonfirmasi laboratorium, dan lima kasus yang dicurigai hantavirus pada 4 Mei, setelah dugaan wabah di kapal pesiar di Samudra Atlantik. Wabah tersebut telah mengakibatkan tiga kematian, satu kritis, dan tiga kasus ringan.
Dikutip dari laman Global Times, WHO mengatakan bahwa investigasi terperinci sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut dan investigasi epidemiologi.
Menurut WHO, perawatan dan dukungan medis diberikan kepada penumpang dan awak kapal, sementara penelusuran virus juga sedang berlangsung.
WHO saat ini menilai risiko terhadap populasi global sebagai rendah, dan akan terus memantau situasi epidemiologi, dan memperbarui penilaian risiko.
Sebelumnya menurut laporan media, kapal pesiar MV Hondius sedang berlayar dari Ushuaia di Argentina, menuju Kepulauan Tanjung Verde yang terletak di tengah Samudra Atlantik, sekitar 450 kilometer dari pantai barat Afrika, ketika mengalami wabah pernapasan akut yang parah.
Sekitar 150 orang masih berada di kapal setelah kematian pasangan Belanda dan seorang warga negara Jerman, serta dua anggota awak kapal yang jatuh sakit.
Penumpang lain yang terkonfirmasi terinfeksi hantavirus, seorang warga negara Inggris, telah meninggalkan kapal dan menerima perawatan intensif di Johannesburg, kata operator kapal pesiar Belanda Oceanwide Expeditions dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, menurut Kantor Berita Xinhua.
Penumpang dan awak kapal mewakili 23 kewarganegaraan. Menurut website resmi WHO, per tanggal 4 Mei 2026, kapal tersebut berlabuh di lepas pantai Tanjung Verde.
WHO mengatakan, bahwa infeksi hantavirus biasanya terkait dengan paparan lingkungan (bisa melalui urin atau feses hewan pengerat yang terinfeksi). Meskipun jarang, hantavirus dapat menyebar antar manusia, dan dapat menyebabkan penyakit pernapasan yang parah, serta membutuhkan pemantauan, dukungan, dan respons pasien yang cermat. (Sumber: Global Times)