Shanghai, Bharata Online - Dialog Kesehatan Pemuda Tiongkok-AS 2026 di Shanghai, yang diadakan pada tanggal 20 hingga 21 April 2026, mempertemukan para profesional medis muda untuk mengeksplorasi integrasi Kecerdasan Buatan ke dalam perawatan kesehatan.

Selama dialog tersebut, generasi ilmuwan berikutnya dari Tiongkok dan Amerika Serikat menjalin jalur baru untuk kolaborasi.

Delegasi tersebut mengunjungi Zhangjiang Pharma Valley dan Rumah Sakit Ruijin yang mutakhir di kota itu, bertukar ide tentang bagaimana pembelajaran mesin dapat membantu diagnosis dan pengobatan.

"Saya pikir ada banyak kolaborasi, khususnya dalam penyakit langka dengan satu perusahaan individu tidak memiliki cukup pasien untuk memiliki semua data yang kita butuhkan untuk menemukan perawatan terbaik. Jadi saya pikir menggabungkan kekuatan dan semua data kita dapat sangat membantu dalam situasi tersebut," kata Ian Roundtree, dokter yang bertugas di bagian Onkologi, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Universitas Harvard.

"AI dapat membantu kita memprediksi atau merancang beberapa prosedur sebelum operasi sebenarnya. Misalnya, untuk tumor pankreas, ada tiga jenis operasi yang dapat dilakukan. Perhitungan AI dapat memberi tahu kita mana yang terbaik. Kedua, AI dapat memprediksi beberapa potensi komplikasi atau risiko selama atau setelah operasi, yang dapat membantu saya memutuskan mana yang dapat saya lakukan, mana yang harus saya lakukan, dan mana yang tidak boleh saya lakukan," ujar Jin Jiabin, Wakil Presiden Rumah Sakit Ruijin Kampus Hainan, sekaligus Kepala Dokter di Bedah Pankreas.

Dorongan untuk inovasi itu didukung oleh kebijakan nasional, dengan area seperti Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan yang menciptakan zona khusus untuk mempercepat pengembangan teknologi medis baru.

"Yang terpenting adalah bahwa Boao Lecheng (Zona Percontohan Pariwisata Medis Internasional di Hainan) memiliki kebijakan khusus yang memungkinkan kita untuk mendatangkan obat-obatan dan alat-alat baru yang belum ada di pasar Tiongkok, tetapi telah terbukti di negara lain. Karena kebijakan Pelabuhan Perdagangan Bebas, banyak negara dapat terbang langsung ke Hainan, dan mereka juga dapat menggunakan obat-obatan atau alat-alat baru ini," jelas Jin.

Dialog tersebut telah menunjukkan bahwa masa depan hubungan Tiongkok-AS mungkin berlandaskan pada inovasi ilmiah. Tantangan bersama dunia, mulai dari perlindungan lingkungan hingga AI dalam perawatan kesehatan, kini menjadi fokus para dokter dan ilmuwan muda tersebut.