Radio Bharata Online -Dilansir Bloomberg pada Kamis (18/8/2022), Walau hubungan politik kedua pihak cenderung kurang baik, namun nilai investasi perusahaan-perusahaan Eropa di Tiongkok cenderung stabil. Berdasarkan data dari Rhodium Grup mencatat investasi dari Uni Eropa ke Tiongkok naik 15 persen pada paruh pertama tahun 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Kenaikan ini didorong oleh BMW AG yang membeli kepemilikan saham pengendali di usah patungan produsen mobil di Tiongkok apada kuartal I/2022.
Meskipun investasi ini menunjukkan penurunan baru-baru ini, perusahaan-perusahaan Eropa tidak menarik diri dari Tiongkok seperti yang dikhawatirkan beberapa orang.
Faktanya, meningkatnya ketegangan geopolitik bahkan dapat mendorong bisnis untuk memperluas rantai produksi lokal. Analis riset Rhodium Group Mark Witzke mengatakan pihaknya belum melihat adanya eksodus besar perusahaan dari Eropa dan sebagian besar masih menyelesaikan proyek yang sudah direncanakan.
Witzke mengungkapkan, “Setidaknya untuk perusahaan Eropa, mayoritas pemain besar yang sudah memiliki kepentingan signifikan di Tiongkok melanjutkan investasi yang direncanakan, meskipun dengan sejumlah penundaan karena lockdown untuk mengekang infeksi Covid-19,”
Sebagaimana diketahui, Hubungan antara Eropa dan Tiongkok telah memburuk selama lebih dari setahun, terakhir karena Tiongkok menolak memberikan sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. Risiko meningkatnya ketegangan bertambah setelah perjanjian investasi bilateral dengan Brussel dibekukan tahun lalu.
Selain itu, penerapan lockdown besar-besaran di seluruh Tiongkok tahun ini menyebabkan kontraksi ekonomi dan berdampak negatif terhadap kinerja bisnis di sana. Meskipun demikian, ekspor dari Eropa masih bertahan, dengan nilai total pengiriman dalam enam bulan pertama tahun 2022 pada tidak berubah dari tahun lalu meskipun ada penguncian yang ketat di beberapa kota di Tiongkok.
Pasar Tiongkok telah menjadi penyelamat bagi banyak neraca perusahaan asing dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Tiongkok mengendalikan infeksi Covid-19 dan dengan cepat membuka kembali ekonomi pada tahun 2020 dan pertumbuhan mencapai 8,1 persen tahun lalu, mengimbangi resesi dan lockdown di negara lain.
Namun, situasi berbalik pada tahun 2022, dengan lockdown di Shanghai dan di kota lain menutup pabrik dan menekan laba sepanjang tahun ini. Namun, banyak perusahaan asing masih percaya bahwa ada lebih banyak keuntungan daripada kerugian dari berbisnis di Tiongkok.
menurut data Bundesbank, BMW AG membuka pabrik tambahan bernilai miliaran dolar di Shenyang awal tahun ini, Audi tengah membangun pabrik kendaraan listrik pertamanya di negara itu, dan Airbus SEjuga memperkuat posisinya di pasar Tiongkok berkat lini perakitan akhir yang membantu meningkatkan pesanan menjadi US$37 miliar pada bulan lalu. Sementara itu, data menunjukkan antusiasme Eropa untuk berinvestasi di Tiongkok tetap relatif kuat dalam beberapa tahun terakhir. Jerman, misalnya, mengarahkan lebih dari 5 persen aset investasi asing ke Tiongkok pada tahun 2020,