Zhengzhou, Bharata Online - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menekankan pentingnya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan perlindungan dan koordinasi guna menjadikan Sungai Kuning lebih indah.
Xi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekaligus Ketua Komisi Militer Pusat, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah instruksi baru-baru ini mengenai upaya lebih lanjut dalam memajukan perlindungan dan pengelolaan Sungai Kuning.
Xi menegaskan perlunya langkah nyata untuk mendorong pelestarian ekologi dan pembangunan berkualitas tinggi di Daerah Aliran Sungai Kuning, melestarikan budaya Sungai Kuning, serta memastikan sungai yang dianggap sebagai "sungai ibu" ini terus memberikan manfaat berkelanjutan bagi bangsa Tiongkok dan generasi mendatang.
Instruksi Xi tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi kerja mengenai upaya komprehensif untuk memajukan perlindungan dan pengelolaan Sungai Kuning, yang diselenggarakan pada hari Senin (2/11) di Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok Tengah.
Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu Guozhong, yang juga merupakan anggota Biro Politik Komite Sentral PKT, turut hadir dan memberikan sambutan dalam konferensi tersebut. Ia menyerukan upaya bersama untuk meningkatkan perlindungan serta pengelolaan terpadu Sungai Kuning, memastikan sungai tersebut dikelola dengan baik, serta mengoptimalkan konservasi dan pemanfaatan sumber daya air secara intensif.
Dalam konferensi tersebut, para peserta diberikan penjelasan mengenai berbagai pencapaian dalam pengelolaan Sungai Kuning selama 80 tahun terakhir di bawah kepemimpinan PKT.
Berkat upaya konservasi selama 80 tahun, sungai yang dulunya sering mengalami banjir dahsyat, sedimentasi tinggi, dan perubahan alur ini kini memiliki air yang lebih bersih serta pola pemanfaatan air yang lebih berkelanjutan.
Sungai Kuning, sungai terpanjang kedua di Tiongkok, mengalir sepanjang 5.464 km melintasi sembilan dari 31 wilayah setingkat provinsi. Sungai ini melewati kawasan gurun dan tanah loess sebelum bermuara di Laut Bohai, di Provinsi Shandong, Tiongkok Timur.