Jakarta, Bharata Online — Acara penutupan program Halo China 2025 yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia berlangsung meriah di Kedutaan Besar Tiongkok, Jakarta, pada Jumat (12/12/2025).
Acara ini dihadiri oleh Duta Besar (Dubes) Tiongkok untuk Indonesia, H.E. Wang Lutong, pendiri sekaligus Ketua FPCI, Dr. Dino Patti Djalal, serta puluhan peserta yang berhasil lolos sebagai 50 besar pemenang kompetisi video kreatif Halo China tahun ini.
Dalam sambutannya, Dubes Wang menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya antara masyarakat kedua negara di tengah dinamika global. Ia menyebut kebangkitan Tiongkok sebagai “fenomena global” yang perlu dipahami secara lebih mendalam oleh masyarakat Indonesia.
“Ini adalah sebuah peradaban yang sangat lama dengan ideologi dan budaya yang berbeda. Kebangkitan Tiongkok adalah fenomena global, jadi akan berguna untuk mengerti tentang Tiongkok dan mengapa Tiongkok berfungsi,” ujarnya.
Wang juga menyinggung selesainya Sidang Pleno Keempat Partai Komunis Tiongkok pada Oktober lalu yang merumuskan arah pembangunan Tiongkok lima tahun ke depan. Menurutnya, prioritas pembangunan Tiongkok meliputi inovasi, ekonomi hijau, dan keterbukaan yang lebih luas terhadap dunia.
“Semua ini bergantung pada perubahan global ke posisi hijau. Dan ini akan berguna untuk mengetahui apa kemungkinan yang Tiongkok dapat tawarkan ke Indonesia dan hubungan kita,” katanya.
Memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok, Wang menegaskan bahwa konektivitas masyarakat menjadi pondasi utama hubungan kedua negara.
“Ini bukan hanya tentang investasi atau perdagangan, tetapi tentang masyarakat—pelajar, ilmuwan, sejarah, musisi, dan artis,” ujarnya.
Ia juga mengumumkan rencana penetapan pejabat pariwisata Tiongkok di Jakarta dan pendirian pusat budaya di kedua negara.
Sementara itu, Ketua FPCI Dr. Dino Patti Djalal dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kedutaan Besar Tiongkok atas kerja sama yang telah terjalin dalam penyelenggaraan program Halo China. Dino menyebut hubungan Indonesia–Tiongkok saat ini berada pada titik yang sangat positif.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ambassador Wang untuk bekerja bersama FPCI dalam proyek yang sangat penting ini. Ini adalah salah satu proyek paling menyenangkan dan produktif yang FPCI miliki,” ujar Dino.
Ia juga menyoroti eratnya hubungan diplomatik kedua negara, termasuk prioritas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tiongkok sebagai negara pertama setelah menjadi presiden.
“Ini mencerminkan kepercayaan dan persahabatan yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok,” katanya.
Dino menambahkan bahwa peserta Halo China 2025 diharapkan dapat menemukan langsung dinamika dan kreativitas masyarakat Tiongkok saat berkunjung ke negara tersebut. Ia menekankan bahwa Tiongkok bukan hanya negara besar, tetapi sebuah peradaban dengan keunikan dan inovasi yang terus berkembang.
“Saya berharap Anda akan menemukan kreativitas dan keramahan masyarakat Tiongkok. Ada banyak kreativitas di Tiongkok, dan itu bisa Anda lihat langsung ketika berada di sana,” ujarnya.
Acara penutupan ini juga menjadi momentum pengumuman para pemenang kompetisi video kreatif. Karya peserta diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yakni Juara 1, Juara 2, Juara 3, 20 Besar, dan 50 Besar. Program ini merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan masyarakat kedua negara melalui media kreatif dan pertukaran budaya.
Dengan berakhirnya Halo China 2025, baik FPCI maupun Kedutaan Besar Tiongkok menyatakan komitmennya untuk terus memperluas kerja sama khususnya di bidang people-to-people connectivity, pendidikan, pariwisata, dan budaya dalam rangka memperkuat hubungan bilateral di masa depan.