MAROS, Bharata Online - Seekor sanca kembang betina raksasa (Malayopython reticulatus) yang ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, resmi dinobatkan sebagai ular liar terpanjang di dunia yang pernah diukur secara ilmiah. Rekor ini sudah dikonfirmasi langsung oleh Guinness World Records (GWR) pada 18 Januari 2026. Ular tersebut memiliki panjang 7,22 meter, diukur dari ujung kepala hingga ekor menggunakan pita ukur survei. Angka ini hanya terpaut sekitar 10 sentimeter dari lebar gawang sepak bola standar FIFA yang berukuran 7,32 meter. 

Saat ditimbang, bobotnya mencapai 96,5 kilogram. Pada sanca kembang dewasa, berat tubuh dapat meningkat drastis setelah makan. Jika perutnya penuh, beratnya diperkirakan bisa melampaui 100 kilogram.

Pemeriksaan dan pengukuran ular sanca ini dilakukan oleh dua figur berpengalaman di dunia satwa liar: Diaz Nugraha, pemandu dan penyelamat satwa liar berlisensi dari Kalimantan, serta Radu Frentiu, penjelajah dan fotografer alam yang telah menetap di Bali selama dua dekade. Keduanya datang langsung ke Sulawesi setelah mendengar rumor tentang keberadaan sanca berukuran ekstrem. Informasi penemuan ini kemudian diteruskan ke Guinness World Records melalui George Beccaloni, Direktur Wallace Correspondence Project, yang menjadi penghubung antara peneliti lapangan dan lembaga pencatat rekor dunia tersebut.

Seperti dilansir dari Kompas.com, sanca raksasa ini kemudian diberi nama Ibu Baron, atau dalam versi internasional dijuluki “The Baroness”. Saat ini, ia berada dalam perawatan konservasionis lokal Budi Purwanto, yang berbasis di Maros. Keberadaan Ibu Baron nyaris berakhir tragis. Ketika kabar penemuannya menyebar pada Desember 2025, muncul risiko ular tersebut dibunuh oleh warga yang khawatir akan keselamatan mereka. Budi Purwanto bergerak cepat mengevakuasi dan mengamankan sang ular, sebuah langkah yang oleh Guinness disebut hampir pasti menyelamatkan nyawa Ibu Baron.

Kini, lewat Ibu Baron, dunia akhirnya memiliki bukti nyata tentang seberapa ekstrem potensi ukuran ular terpanjang di planet ini—dan Indonesia kembali menjadi panggung utama dalam catatan sejarah alam dunia. [Kompas.com]