JAKARTA, Bharata Online - Disadari atau tidak hampir semua makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari mengandung garam. Sulit menghitung jumlahnya jika sudah menyatu dengan makanan, misalnya kentang goreng, keripik asin, atau minuman latte.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA telah membatasi konsumsi garam atau natrium maksimal 2.300 miligram setiap hari. Konsumsi garam memang perlu dibatasi karena bisa berdampak pada kesehatan. Kebanyakan orang tahu bahwa efek kebanyakan garam adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi, tapi tak banyak yang menyadari bahwa ini juga bisa mempengaruhi kesehatan reproduksi.

Sebenarnya efek garam untuk kesehatan reproduksi pernah dibuktikan dalam sebuah studi University of Wyoming pada 2015. Kemudian studi itu dipertegas lagi oleh penelitian di 2020 yang didanai oleh Deanship of Scientific Research at Princess Nourah bint Abdulrahman University. Keduanya mengungkapkan bahwa pola makan terlalu banyak garam bisa mengacaukan sistem reproduksi.

Menurut ketua peneliti di University of Wyoming, Dori Pitynski, lemak dan garam yang tinggi memiliki efek berlawanan pada kesehatan reproduksi. “Diet tinggi lemak dianggap mempercepat permulaan pubertas, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa tikus diberi makan diet tinggi garam, bahkan dengan diet tinggi lemak, masih akan menunjukkan penundaan permulaan pubertas."

Artinya, asupan garam yang tinggi tidak hanya dapat menunda pubertas, tetapi juga dapat menyebabkan masalah kesuburan di kemudian hari.

Peneliti utama di Princess Nourah bint Abdulrahman University, Sameh A. Abdelnour, melakukan penelitian tentang bagaimana garam mempengaruhi kesuburan hewan. Studi ini melihat bagaimana hewan yang diberi pakan dengan konsentrasi garam tinggi bereaksi terhadap kadar garam.

Diyakini bahwa garam menyebabkan reaksi buruk terhadap pertumbuhan, dan fungsi reproduksi pada pria dan wanita karena penurunan regulasi hormon testosteron, FSH (follicle stimulating hormone), LH (luteinizing hormone), dan leptin.

Studi Abdelnour menemukan bahwa garam meningkatkan faktor inflamasi di plasenta dan berdampak negatif pada kehamilan. Tetapi fokusnya adalah pada kinerja pertumbuhan, spermatogenesis, morfologi testis, dan fungsi sperma.

Selain itu ada hubungan antara mengonsumsi makanan dengan kandungan garam tinggi dan gangguan, seperti osteoporosis, obesitas, kanker, hipertensi, retensi air, diabetes, tekanan darah tinggi, demensia vaskular, penyakit kardiovaskular, penurunan kesehatan usus, penurunan fungsi jaringan, dan pemicu gangguan autoimun. 

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mengkonsumsi garam dalam konsentrasi tinggi menyebabkan sperma mengalami stres oksidatif dan cedera, yang menurunkan kesuburan pria, sedangkan pada wanita, diet garam tinggi menyebabkan penurunan produksi folikel ovarium, penurunan jumlah sel proliferasi dan menginduksi apoptosis pada sel granulosa. [Tempo.co]