Beijing, Bharata Online - Perusahaan multinasional mengincar peluang pertumbuhan baru di Tiongkok di tengah meningkatnya permintaan domestik dan pasar konsumen yang lebih baik, yang menunjukkan bagaimana stabilitas kebijakan Tiongkok memungkinkan bisnis untuk membuat keputusan jangka panjang yang lebih baik di tengah latar belakang global yang penuh tantangan.

Selama "Dua Sesi" tahun ini di Beijing, pentingnya strategis permintaan domestik telah digarisbawahi baik dalam laporan kerja pemerintah maupun rancangan garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), sebuah cetak biru yang memetakan prioritas pembangunan sosial ekonomi Tiongkok hingga akhir dekade ini.

Di tengah lingkungan internasional yang kompleks dan penuh tantangan, laporan kerja pemerintah—yang disampaikan oleh Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, Kamis (5/3) lalu—menekankan perlunya tetap berkomitmen untuk memperluas permintaan domestik, menjanjikan berbagai langkah untuk merangsang konsumsi, yang dipandang sebagai pilar penting permintaan domestik.

Fokus tersebut semakin diperkuat dalam Rencana Lima Tahun ke-15, yang menyatakan bahwa Tiongkok bertujuan untuk "mencapai peningkatan yang signifikan dalam konsumsi rumah tangga sebagai bagian dari produk domestik bruto, menjadikan permintaan domestik sebagai penggerak ekonomi yang lebih menonjol".

Tahun lalu, total penjualan ritel barang konsumsi di Tiongkok melampaui 50 triliun yuan (sekitar 123 ribu triliun rupiah) untuk pertama kalinya, dengan konsumsi menyumbang 52 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, naik 5 poin persentase dari tahun sebelumnya.

Pasar konsumen Tiongkok—pasar terbesar kedua di dunia—sedang mengalami pergeseran mendalam dari ekspansi skala ke peningkatan kualitas, dengan berbagai langkah yang diluncurkan untuk membuka potensi besarnya.

Shi Wang, Presiden Divisi Tiongkok Raya dari perusahaan farmasi dan perawatan kesehatan multinasional Prancis, Sanofi, mengatakan bahwa pasar konsumen Tiongkok yang luas dan prediktabilitas kebijakan adalah alasan utama mengapa perusahaan multinasional bersedia untuk lebih memperluas investasi di negara tersebut.

"Berkali-kali ketika saya berkomunikasi dengan tim kepemimpinan global kami, dua poin yang sangat mereka hargai adalah, pertama, ketahanan ekonomi Tiongkok, yang didukung oleh basis populasi yang besar dan permintaan domestik yang kuat. Kedua adalah prediktabilitas ekonomi Tiongkok dan kebijakannya. Bagi banyak kantor pusat multinasional yang membuat keputusan jangka menengah dan panjang, kedua faktor ini adalah alasan utama mengapa mereka sangat bersedia untuk meningkatkan investasi lebih lanjut di Tiongkok," ujar Shi.

Shi juga menguraikan rencana pengembangan perusahaan di masa depan di Tiongkok, dan memberikan informasi terbaru tentang pabrik baru yang sedang dibangun di Beijing.

"Pada akhir tahun 2024, dewan direksi kami memutuskan untuk berinvestasi sebesar 1 miliar euro (sekitar 20,3 triliun rupiah) di Beijing untuk membangun fasilitas manufaktur bahan aktif obat untuk insulin. Pada 7 Januari tahun ini, kami secara resmi memulai pembangunan proyek tersebut. Kami berharap dapat menyelesaikan struktur utama pabrik pada akhir tahun ini dan membawa produk akhir ke pasar sekitar tahun 2030," ungkap Shi.

Fang Juntao, Wakil Presiden Senior Bidang Urusan Korporat dan Keberlanjutan di Nestle Greater China, merasa optimis dengan sinyal kebijakan yang muncul dari "Dua Sesi" dan diuraikan dalam laporan kerja pemerintah.

"Kami merasa sangat bersemangat, karena Tiongkok terus memperluas reformasi dan keterbukaan serta mengejar keterbukaan berstandar tinggi. Bagi perusahaan yang berinvestasi asing, ini memberikan dukungan yang kuat dan berfungsi sebagai kekuatan penstabil," katanya.

Fang juga menyatakan komitmen Nestle untuk lebih meningkatkan investasi dan mempercepat pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen Tiongkok yang terus berkembang.

"Nestle akan terus meningkatkan investasi di seluruh rantai industri. Pada saat yang sama, sebagai respons terhadap meningkatnya harapan konsumen Tiongkok, khususnya meningkatnya permintaan akan konsumsi emosional dan nilai emosional dalam satu atau dua tahun terakhir, kami memasukkan tren ini ke dalam penelitian dan pengembangan produk kami menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma lainnya," ujar Fang.

Sementara itu, Tu Changming, Direktur Senior di Yihai Kerry Arawana Holdings, perusahaan pengolahan minyak goreng terbesar di Tiongkok, juga mencatat perlunya menanggapi kebiasaan konsumen yang terus berubah dan memanfaatkan potensi pasar.

"Skenario konsumsi semakin beragam, yang mendorong perusahaan untuk meningkatkan rantai pasokan mereka dan menimbulkan tantangan yang lebih besar bagi bisnis. Yihai Kerry akan tetap berkomitmen untuk berbuat lebih banyak di Tiongkok, memanfaatkan peluang yang dibawa oleh peningkatan konsumsi untuk mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," katanya.

Kevin Chor, CEO AXA Tianping Property and Casualty Insurance Company, mengatakan perusahaannya akan mempercepat pengembangan asuransi kesehatan komersial dan berupaya memanfaatkan peluang yang muncul dari peluncuran operasi bea cukai khusus di seluruh pulau di Pelabuhan Perdagangan Bebas atau Free Trade Port (FTP) Hainan yang mulai berlaku di seluruh provinsi pulau tropis tersebut pada Desember lalu.

"Di sektor asuransi kesehatan, kami akan mempercepat pengembangan asuransi kesehatan komersial, mendorong implementasi inovasi medis, sehingga dapat bekerja secara sinergis dengan sistem asuransi kesehatan dasar untuk lebih melindungi kesehatan masyarakat. Pada saat yang sama, kami akan mengikuti dengan saksama peluang bersejarah yang dibawa oleh peluncuran operasi bea cukai khusus di seluruh pulau di Zona Perdagangan Bebas Hainan, terus memperdalam kehadiran kami di pasar Tiongkok, berbagi dividen pembangunan negara, dan mendorong inovasi bisnis sambil tumbuh bersama dengan ekonomi Tiongkok," jelasnya.

"Dua Sesi" merupakan peristiwa penting dalam kalender politik Tiongkok, yaitu pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional (KRN), badan kekuasaan negara tertinggi, dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok atau Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC), badan penasihat politik tertinggi.