La Rochelle, Bharata Online - Menurut Fernando Pedraza-Diaz, Wakil Presiden Hubungan Internasional di Universitas La Rochelle di Prancis, kerja sama antara Tiongkok dan Prancis di sektor pendidikan meletakkan fondasi bagi hubungan bilateral yang lebih erat dan pertukaran antarmasyarakat antargenerasi muda.

Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Pedraza-Diaz menyoroti pencapaian 30 tahun kerja sama yang ekstensif antara universitasnya dan mitra-mitra Tiongkoknya.

"Kami adalah salah satu universitas terkemuka di Prancis untuk pembelajaran bahasa Mandarin dan penelitian sinologi. Khususnya, kami telah mengembangkan kerja sama yang ekstensif dengan Tiongkok dan kini memiliki 15 institusi mitra. Setiap tahun, kami melatih sekitar 400 mahasiswa dalam bahasa Mandarin di tingkat sarjana, magister, dan bahkan doktoral," ujarnya.

Kemitraan tersebut mulai terbentuk tiga dekade lalu, dan sejak itu, universitas ini terus memperluas kerja sama dengan berbagai institusi di Tiongkok.

Salah satu mitra terdekatnya saat ini adalah Universitas Bahasa dan Budaya Beijing atau Beijing Language and Culture University (BLCU), yang mengelola Institut Konfusiusnya bersama Universitas La Rochelle.

Upaya bersama tersebut memberikan dukungan yang kuat bagi pengajaran bahasa dan budaya Tiongkok bagi mahasiswa S1, siswa SMA, dan para profesional.

"Jumlah mahasiswa terus bertambah, oleh karena itu kami perlu menjalin lebih banyak kemitraan dan, khususnya, mempertimbangkan mobilitas yang lebih besar. Misalnya, semester depan kami berencana mengirimkan 54 mahasiswa Prancis ke Tiongkok, sementara kami akan menerima sekitar 45 mahasiswa. Ini merupakan permintaan yang kuat karena bahasa Mandarin tidak hanya sangat populer, tetapi juga menjadi lingua franca yang semakin penting di Prancis saat ini," ujar Pedraza-Diaz.

"Saya rasa kami telah menjalin kerja sama yang sangat kuat dengan Tiongkok karena kami saling memahami, kami memahami kepentingan bersama yang dimiliki kedua negara, termasuk dalam hal hubungan linguistik dan budaya. Oleh karena itu, kami dapat sepenuhnya mempercayai mitra Tiongkok kami dalam memilih mahasiswa yang akan mereka kirim ke La Rochelle, dan mereka pun mempercayai mahasiswa yang kami pilih untuk dikirim ke Tiongkok. Hasilnya, kami telah membangun kemitraan yang sangat kuat, tidak hanya dengan mitra kami di Tiongkok, tetapi juga melalui lulusan kami yang menempuh pendidikan di Universitas La Rochelle dan kini menjabat sebagai direktur Institut Konfusius di Eropa. Sebagai contoh, Institut Konfusius di Luksemburg dipimpin oleh salah satu mantan mahasiswa kami," lanjutnya.

Pedraza-Diaz juga merefleksikan pengalamannya mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan di Tiongkok selama 14 tahun terakhir.

"Apa yang saya saksikan 14 tahun lalu dan apa yang saya saksikan hari ini menunjukkan sebuah negara yang terus berkembang. Keramahan Anda selalu luar biasa, tetapi sekarang kami juga melihat kemajuan yang mengesankan dalam keterampilan berbahasa, dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan lainnya, yang jelas menunjukkan betapa terbukanya Tiongkok terhadap dunia," ujarnya.