Dalam sejarah yang panjang, 10 tahun hanyalah sebuah momen yang singkat, namun cukup membuat konsep ini memusatkan energi yang dapat mengubah dunia.

Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan mendorong investasi senilai sekitar satu triliun dolar AS, dan membuat sebanyak 40 juta orang dari seluruh dunia terlepas dari kemiskinan; saat Covid-19 merebak di seluruh dunia, vaksin dan material medis Tiongkok dipandang oleh berbagai negara sebagai “penjaga kehidupan”. Di balik hal-hal tersebut, yang memainkan pengaruhnya adalah konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan manusia yang diajukan oleh Tiongkok.

Pada bulan Maret tahun 2013, saat berpidato di Institut Hubungan Internasional Moskow, Presiden Xi Jinping untuk pertama kalinya mengajukan konsep komunitas senasib sepenanggungan. Setelahnya, konsep tersebut terus diperkaya dan dikembangkan, sehingga dicantumkan dalam resolusi Sidang Majelis Umum PBB selama 6 tahun berturut-turut, sekaligus dicantumkan dalam resolusi atau deklarasi berbagai mekanisme multilateral seperti SCO (Organisasi Kerja Sama Shanghai) dan BRICS, mendapat apresiasi dan dukungan dari masyarakat internasional. Apa alasan di baliknya? Pihak resmi Tiongkok, hari Selasa (26/9) kemarin merilis Buku Putih “Bersama-sama Membangun Komunitas Senasib Sepenanggungan: Inisiatif dan Aksi  Tiongkok” yang secara menyeluruh memperkenalkan makna intern dan hasil praktik Tiongkok dalam membangun komunitas senasib sepenanggungan.

Pada 10 tahun yang lalu, saat Tiongkok mengajukan konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan, masyarakat sulit memprediksikan bahwa situasi selanjutnya akan menjadi begitu rumit dan mengalami perubahan besar, dari perang perdagangan sampai persaingan antar negara besar, dari wabah virus Corona sampai konflik Rusia-Ukraina, dari kesenjangan Selatan-Utara yang semakin besar sampai krisis ekosistem yang alarmnya berulang kali berbunyi, dunia sedang memasuki tahap perubahan yang bergejolak, “ke mana manusia akan pergi” menjadi pertanyaan zaman.

Konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan patut menjadi jawaban Tiongkok untuk pertanyaan zaman tersebut, konsep tersebut memanifestasikan persepsi ilmiah terhadap perubahan dan perkembangan situasi dunia. Konsep tersebut menekankan bahwa masa depan dan nasib setiap bangsa, setiap negara dan setiap orang saling terikat erat, konsep tersebut memprakarsai untuk mendorong pembangunan dunia yang damai dalam jangka panjang, aman secara menyeluruh, makmur bersama, terbuka dan inklusif, bersih dan indah; mempertahankan pandangan tata kelola global yang berkonsultasi bersama, membangun bersama dan berbagi bersama, agar negara-negara menjadi peserta, kontributor dan penerima keuntungan.

Konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan tidak hanya mempunyai visi yang indah, tapi juga mempunyai jalur praktik dan rencana aksi. Selama 10 tahun ini, dari inisiatif pembangunan bersama Satu Sabuk Satu Jalan, sampai inisiatif Pembangunan Global, inisiatif Keamanan Global, dan inisiatif Peradaban Global, Tiongkok terus mendorong konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan berkembang dengan stabil dan mendalam, serta mendatangkan keuntungan yang besar bagi seluruh dunia.

Misalnya, dalam mendorong kerja sama Selatan-Selatan, sebagai negara berkembang terbesar di dunia dan salah satu anggota Selatan Global, Tiongkok melakukan kerja sama dengan sekitar 20 organisasi internasional, melaksanakan sebanyak 130 proyek di sekitar 60 negara termasuk Ethiopia, Pakistan dan Nigeria, yang mencakup bidang pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, penanggulangan wabah dan perubahan iklim, dan penerima keuntungannya melampaui 30 juta orang. Menurut laporan dari Bank Dunia, pelaksanaan inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan secara menyeluruh akan membuat perdagangan antar negara peserta meningkat 4,1 persen. Sampai tahun 2030, inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan akan mendatangkan keuntungan sebesar 1,6 triliun dolar AS bagi seluruh dunia tiap tahunnya.

Saat ini, situasi internasional masih berubah-ubah secara mendalam. Berbeda dengan mentalitas Zero sum game dari sejumlah negara Barat, konsep pembangunan komunitas senasib sepenanggungan menyarankan untuk menyelesaikan konflik dan konfrontasi dengan pembangunan secara damai, menggantikan keamanan mutlak dengan keamanan bersama, melepaskan perlawanan Zero sum game dengan saling menguntungkan dan kemenangan bersama, mencegah konflik  peradaban dengan pertukaran dan saling belajar, serta menyarankan untuk mendiskusikan bersama masalah global, membangun bersama sistem tata kelola, dan berbagi bersama hasil pengelolaan. Inilah konsep Tiongkok untuk membenahi tata kelola global. Semakin banyak negara dan rakyat mulai menyadari bahwa konsep tersebut sesuai dengan kepentingan bersama manusia. Sekjen PBB Antonio Guterres menunjukkan, mempraktikkan multilateralisme bertujuan untuk membangun komunitas senasib sepenanggungan.

Pewarta : CRI