Beijing, Bharata Online - Tiongkok dan Rusia telah sepakat untuk dengan tegas menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II, menjaga perdamaian dan keamanan dunia, serta menegakkan kebenaran sejarah dan keadilan internasional, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing pada hari Jumat (5/12).

Menanggapi pertanyaan media terkait, Lin memberikan penjelasan kepada pers mengenai hasil kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, ke Rusia dan putaran ke-20 konsultasi keamanan strategis Tiongkok-Rusia awal pekan ini.

"Tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang dan Perang Patriotik Raya Uni Soviet. Kedua kepala negara menghadiri peringatan di negara masing-masing, dan sepakat untuk dengan tegas menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II dan dengan tegas menentang tindakan mundur apa pun yang mencoba menutupi agresi kolonial, mengirimkan pesan yang kuat untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan di era saat ini," ujar Lin.

"Selama konsultasi keamanan strategis Tiongkok-Rusia baru-baru ini, kedua belah pihak melakukan penyelarasan strategis terkait isu-isu terkait Jepang, dan mencapai tingkat konsensus yang tinggi. Kedua belah pihak sepakat untuk dengan tegas menjaga hasil kemenangan Perang Dunia II yang diraih dengan mengorbankan nyawa dan darah, dengan tegas menentang segala perkataan dan tindakan keliru yang berupaya menutupi sejarah agresi kolonial, dan dengan tegas melawan segala upaya untuk menghidupkan kembali fasisme atau militerisme Jepang. Kedua belah pihak menekankan bahwa Tiongkok dan Rusia, sebagai negara besar dan anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan memikul tanggung jawab bersama untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia, serta menegakkan kebenaran sejarah dan keadilan internasional," jelasnya.

"Kami siap untuk terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan Rusia guna secara tegas mengekang tindakan provokatif kekuatan sayap kanan Jepang yang merusak perdamaian dan stabilitas regional serta berupaya melakukan remiliterisasi," kata Lin.