Bharata Online - Penemuan arkeologis di situs Luojiahe dan hasil riset genetika jangka panjang di situs Shimao bukan sekadar kabar tentang masa lalu yang terkubur ribuan tahun, melainkan bukti ilmiah yang sangat penting untuk memahami bagaimana peradaban Tiongkok tumbuh secara mandiri, berkelanjutan, dan kompleks jauh sebelum konsep negara modern, apalagi sebelum dominasi peradaban Barat.

Jika dianalisis melalui berbagai paradigma hubungan internasional dan teori peradaban, temuan ini secara kuat menantang narasi lama yang kerap menempatkan Tiongkok sebagai pendatang baru dalam sejarah peradaban dunia.

Dari perspektif realisme historis, kekuatan sebuah peradaban tidak hanya diukur dari kemampuan militernya, tetapi dari kapasitasnya membangun organisasi sosial, teknologi, dan legitimasi kekuasaan dalam jangka panjang. Situs Luojiahe yang berasal dari sekitar 4.800 hingga 4.200 tahun lalu menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah Shaanxi telah memiliki kemampuan produksi, pembagian kerja, dan pengetahuan teknis yang maju.

Temuan lebih dari 1.000 artefak mulai dari tembikar, perkakas batu, hingga giok mengindikasikan sistem ekonomi dan sosial yang stabil, bukan komunitas primitif yang hidup sekadar untuk bertahan. Teknik pembuatan tembikar dengan metode lilit, pemolesan permukaan, hingga desain wadah memasak yang efisien menunjukkan pemahaman mendalam tentang panas, fungsi, dan efisiensi energi. Dalam logika realisme, ini adalah fondasi awal dari kekuatan material dan kapasitas negara yang kelak menjadi ciri khas Tiongkok.

Jika dilihat melalui paradigma liberal-institusional, penemuan ini juga memperlihatkan bahwa kerja sama, transfer pengetahuan, dan institusionalisasi keahlian telah berlangsung sejak masa prasejarah. Jejak tangan pengrajin pada genteng Periode Longshan bukan hanya bukti teknik manual, tetapi simbol adanya komunitas pengrajin yang terorganisasi, kemungkinan besar berada dalam struktur sosial tertentu.

Ini menandakan adanya norma, tradisi, dan pembelajaran kolektif yang diwariskan lintas generasi. Dalam konteks hubungan internasional modern, kemampuan suatu bangsa membangun institusi pengetahuan yang berkelanjutan merupakan kunci soft power, dan Tiongkok telah mempraktikkannya sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum konsep universitas atau negara-bangsa diperkenalkan di Eropa.

Pendekatan konstruktivisme memberikan dimensi yang lebih dalam. Identitas kolektif dan makna sosial terbentuk melalui praktik budaya dan simbol. Artefak giok, tembikar berpola, serta tata ruang situs Luojiahe menunjukkan bahwa masyarakat saat itu tidak hanya memproduksi barang untuk kebutuhan praktis, tetapi juga untuk tujuan simbolik dan ritual.

Hal ini memperkuat gagasan bahwa identitas peradaban Tiongkok dibangun di atas nilai-nilai budaya, estetika, dan makna sosial yang kuat. Identitas inilah yang kemudian menjelaskan mengapa Tiongkok, dalam politik global kontemporer, sangat menekankan kesinambungan sejarah, kedaulatan budaya, dan penolakan terhadap dominasi nilai tunggal dari Barat.

Temuan di situs Shimao semakin memperkuat gambaran tersebut dalam skala yang lebih kompleks. Dengan luas permukiman yang masif dan struktur kota yang berlapis, Shimao menunjukkan ciri-ciri awal sebuah negara dengan stratifikasi sosial yang jelas. Bukti adanya bengkel perkakas tulang berskala besar di Huangchengtai menandakan spesialisasi ekonomi dan kontrol produksi oleh elite penguasa.

Dalam teori negara awal, khususnya pendekatan materialis-historis, kontrol atas alat produksi dan tenaga kerja merupakan syarat utama munculnya kekuasaan terpusat. Shimao memenuhi kriteria tersebut sekitar 4.200–3.700 tahun lalu, sezaman atau bahkan lebih awal dibandingkan banyak peradaban besar lain di dunia.

Yang paling signifikan adalah hasil studi genetika selama 13 tahun yang dipublikasikan di jurnal Nature. Dengan menganalisis 169 sampel genom manusia purba, para peneliti berhasil membuktikan kontinuitas genetik yang kuat antara budaya Shimao dan populasi Yangshao akhir di Shaanxi utara.

Ini adalah bukti ilmiah yang sangat penting karena menegaskan bahwa peradaban Tiongkok berkembang secara endogen, bukan hasil impor atau imitasi peradaban luar. Dalam perdebatan akademik global, temuan ini secara langsung membantah pandangan euro-sentris yang kerap meremehkan orisinalitas peradaban non-Barat.

Pada saat yang sama, ditemukannya jejak leluhur dari padang rumput utara dan petani padi pesisir selatan pada sebagian kecil individu menunjukkan bahwa sejak awal, peradaban Tiongkok bersifat terbuka dan inklusif. Dari sudut pandang teori kompleksitas dan pluralisme budaya, ini membuktikan bahwa kekuatan Tiongkok tidak lahir dari homogenitas kaku, melainkan dari kemampuan menyerap, mengintegrasikan, dan mengelola keberagaman.

Pola ini sangat relevan dengan kebijakan Tiongkok saat ini yang menekankan integrasi nasional, stabilitas sosial, dan pembangunan bersama di tengah keragaman etnis dan budaya.

Bukti pengorbanan manusia dan rekonstruksi sistem kekerabatan penguasa Shimao juga membuka pemahaman baru tentang legitimasi kekuasaan pada negara-negara awal Asia Timur. Kekuasaan tidak semata-mata bersandar pada kekerasan, tetapi pada struktur keluarga, simbol sakral, dan ritual yang membangun kepatuhan sosial.

Dalam perspektif hubungan internasional kritis, ini menjelaskan mengapa konsep legitimasi dan stabilitas internal selalu menjadi prioritas utama dalam tradisi politik Tiongkok, berbeda dengan pendekatan liberal Barat yang lebih menekankan kompetisi elektoral.

Secara keseluruhan, temuan di Luojiahe dan Shimao menunjukkan bahwa fondasi peradaban Tiongkok dibangun di atas inovasi teknologi, organisasi sosial yang kompleks, kontinuitas genetik, dan keterbukaan budaya sejak ribuan tahun lalu. Ini bukan sekadar kebanggaan historis, tetapi bukti bahwa kebangkitan Tiongkok di abad ke-21 memiliki akar peradaban yang sangat dalam.

Dalam konteks geopolitik global saat ini, ketika narasi Barat kerap meragukan legitimasi dan keberlanjutan model pembangunan Tiongkok, data arkeologis dan genetika ini justru menegaskan bahwa Tiongkok bukan anomali sejarah, melainkan salah satu pusat peradaban dunia yang paling tua, paling adaptif, dan paling berkelanjutan.