JAKARTA, Bharata Online – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infrawil), menjamin keselamatan dan kelancaran mobilitas masyarakat selama periode Nataru 2025-2026. Langkah strategis ini difokuskan pada penguatan sistem peringatan dini dan koordinasi lintas pemangku kepentingan, demi menjamin perjalanan aman dan nyaman masyarakat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa sejumlah fenomena atmosfer, aktif secara bersamaan pada periode Nataru kali ini.
Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, hingga fenomena La Nina Lemah dan IOD Negatif, diprakirakan akan meningkatkan potensi curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Faisal dalam Rapat Koordinasi bersama Kemenko Infrawil di Kantor Pusat BMKG, Senin (22/12) mengatakan, “Perlu diwaspadai curah hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi (300–500 mm/bulan) di wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan yang sedang mengalami puncak musim hujan, serta wilayah Kalimantan.”
Di sisi lain, BMKG juga terus memantau pergerakan Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia. Meski terpantau menjauhi wilayah Indonesia, bibit ini berpotensi meningkat menjadi siklon tropis dalam waktu 24 jam, dan berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca.
Namun demikian, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan BMKG terus berkomitmen untuk mengawal keselamatan perjalanan masyarakat selama periode Nataru. Dukungan yang akan diberikan adalah informasi cuaca, baik di darat, laut, maupun udara melalui tiga layanan utama yang telah terintegrasi.
BMKG memberikan dukungan terhadap sektor perhubungan melalui informasi cuaca khusus di jalur darat (Digital Weather For Traffic/DWT), di laut (Indonesia Weather Information For Shipping/INA-WIS), serta udara (System Of Interactive Aviation Meteorology/INA-SIAM).
Untuk layanan informasi cuaca penerbangan (flight forecast), telah terintegrasi dalam INA-SIAM, menyampaikan peringatan dini mengenai potensi bahaya penerbangan, seperti hujan lebat disertai badai petir, abu vulkanik, hingga siklon tropis, sehingga pilot dapat melakukan manuver menghindar, atau memilih bandara alternatif dengan aman.
Di sisi lain, sebagai langkah konkret pengurangan risiko bencana, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah strategis.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa OMC saat ini tengah berlangsung di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur. (BMKG)