JAKARTA, Bharata Online - Belakangan ini ramai tentang wacana pemberian gelar kepahlawanan terhadap Presiden ke 2 RI H.M Soeharto. penganugerahan gelar itu merupakan bentuk penghormatan negara atas jasa para tokoh yang dinilai telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara.

Pahlawan sering diidentikan dengan nama-nama besar yang diabadikan dalam sejarah. Namun, di balik itu, ada pejuang lain yang jasanya nyaris terlupakan, salah satunya adalah The Sin Nio. 

Mengenang sosok The Sin Nio di Hari Pahlawan 10 November ini, menjadi sangat penting untuk mengapresiasi keberanian pejuang perempuan keturunan Tionghoa asal Wonosobo yang berjuang tanpa batas gender dan etnis demi kemerdekaan Indonesia.

The Sin Nio merupakan pejuang perempuan Tionghoa yang lahir di Wonosobo, Jawa Tengah. Di masa revolusi kemerdekaan 1945, ia bergabung dengan Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18.

Uniknya, demi menjalankan tugas sebagai prajurit, The Sin Nio menyamar menjadi laki-laki dengan menggunakan nama Mochamad Moeksin. Dia juga melilit bagian dada agar tampak gagah seperti pria sehingga dapat diterima bersama para pejuang lainnya. Berbekal senjata tradisional golok dan bambu runcing, ia berani menantang musuh. Bahkan The Sin Nio sempat merampas senjata api dari pasukan Belanda, membuktikan keberanian dan kemampuan dalam pertempuran.

Meski berperan dalam perjuangan kemerdekaan, masa tua The Sin Nio jauh dari kata bahagia. Ia hidup sendiri di sebuah rumah kecil dekat Stasiun Kereta Api Juanda di Jakarta,  yang berjarak hanya lima meter dari rel kereta. Kondisi tersebut mencerminkan betapa nasib pahlawan ini kurang mendapat perhatian setelah perang usai. Sin Nio memilih hidup sendiri dan hanya sesekali berkunjung kepada keponakannya. Setelah meninggal, makamnya di Pemakaman Layur Rawamangun, Jakarta, kini kurang terawat karena kendala administrasi.

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November menjadi momentum yang tepat untuk mengenang perjuangan The Sin Nio dan para pahlawan lainnya. Perjuangan The Sin Nio menunjukkan bahwa semangat juang kemerdekaan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan warga keturunan Tionghoa. Kisahnya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih bersama oleh beragam golongan yang memiliki keberanian dan dedikasi tinggi. 

mengenal sosok The Sin Nio di Hari Pahlawan ini, mengingatkan kita untuk terus menghargai dan mengenang jasa para pahlawan, tidak hanya yang tercatat di buku sejarah, tetapi juga mereka yang berjuang tanpa banyak diketahui dan sering dilupakan. Kisah The Sin Nio mengajarkan kita tentang keberanian tanpa pamrih, pengorbanan besar, dan semangat pantang menyerah yang memberi warna dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Semoga ini bisa menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menghargai perjuangan semua pahlawan, tanpa memandang gender, etnis, dan latar belakang. [satunenitnews]