Beijing, Radio Bharata Online - Seorang pejabat Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok mengatakan pada sebuah acara lingkungan pada hari Senin (3/6) lalu bahwa Tiongkok telah mencapai kemajuan luar biasa dalam konservasi dan restorasi ekologi dalam beberapa tahun terakhir, berkontribusi secara signifikan terhadap upaya global untuk memperbaiki lingkungan.
Acara khusus yang diadakan di Prince Shuncheng Mansion, yang juga dikenal sebagai Jun Wang Fu di Beijing itu diselenggarakan oleh Kantor Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) di Tiongkok dua hari menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 5 Juni.
Para peserta yang hadir termasuk perwakilan dari badan-badan PBB di Tiongkok, departemen pemerintah Tiongkok, serta lembaga bisnis dan penelitian.
Acara tahun ini berfokus pada restorasi lahan, memerangi penggurunan, dan membangun ketahanan terhadap kekeringan melalui pengelolaan lahan yang berkelanjutan untuk mencapai masa depan tanpa karbon dan menjaga kesehatan planet ini.
Para ahli berbagi wawasan mereka tentang perlindungan dan restorasi lahan, mengeksplorasi hubungan penting antara tanah, atmosfer, dan perubahan iklim.
Dengan menerapkan sistem garis merah untuk membatasi wilayah ekologi yang rentan, Tiongkok telah merestorasi lebih dari 100 juta mu (sekitar 6,7 juta hektare) gunung, sungai, hutan, lahan pertanian, danau, padang rumput, dan padang pasir, ujar Lu Lihua, Wakil Kepala Departemen Pemulihan Ekologi Ruang Teritorial di bawah Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok.
Tu Ruihe, Kepala Kantor UNEP di Tiongkok, mengatakan dalam pidatonya di acara tersebut bahwa ia berharap upaya dan pengalaman Tiongkok yang dipuji secara luas dalam restorasi lingkungan dapat dibagikan kepada dunia.
"Upaya dan pencapaian Tiongkok dalam restorasi ekologi telah banyak dipuji oleh komunitas internasional, dengan beberapa proyek dan unit menerima penghargaan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP). Contohnya adalah proyek penghijauan di Aohan Banner, Chifeng, Mongolia Dalam, yang diakui sebagai salah satu dari Global 500 Roll of Honour dari UNEP," kata Tu.
Fu Lu, Direktur Clean Air Asia di Tiongkok, menekankan perlunya memperkuat pengelolaan lahan, penghijauan, dan langkah-langkah pengendalian penggurunan, yang dapat mengurangi dampak negatif terhadap iklim.
"Dalam konteks perubahan iklim global, kita masih memiliki banyak tugas di depan. Mencapai hasil bukan berarti kita bisa mengendurkan kewaspadaan, terutama dalam beberapa tahun terakhir di mana Tiongkok bagian utara mengalami kekeringan dan musim dingin yang hangat. Jika aktivitas manusia yang merusak tanah dan vegetasi meningkat, badai pasir yang telah dicegah bisa saja kembali terjadi," ujar Fu.