Chongqing, Radio Bharata Online - Konsumen Tiongkok mendapatkan lebih banyak akses ke durian, buah tropis berduri yang populer dan terkenal dengan baunya yang kuat. Pasalnya, eksportir di Asia Tenggara merasa lebih mudah untuk menjualnya ke pasar yang sangat luas di negara tersebut.

Rasa dari buah ini bisa jadi tidak menyenangkan bagi sebagian orang, namun banyak orang di seluruh Tiongkok menyukai rasanya yang unik dan lembut, dan perkembangan terbaru telah memulai kembali kegemaran membeli buah tersebut.

"Menurut saya durian sangat lezat dan aromanya harum. Rasanya manis dan disebut sebagai 'Raja Buah'. Rasanya juga ketan. Saya dan keluarga saya selalu membelinya. Harganya lebih murah sekarang. Dulu harganya bisa mencapai 40 yuan (sekitar 84 ribu rupiah) per setengah kilo," kata Chen Hui, seorang pelanggan di Chongqing, barat daya Tiongkok.

Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Hong Kong and Shanghai Banking Corporation minggu lalu, Tiongkok menyumbang lebih dari 90 persen impor durian global, mencapai nilai 6 miliar dolar AS (sekitar 92 triliun rupiah) dalam dua tahun terakhir.

Harganya biasanya berkisar antara 10 hingga 14 dolar AS (sekitar 154 ribu hingga 215 ribu rupiah) per kilogram, tetapi sejak Mei tahun ini harganya turun sekitar setengahnya. Li Junxiong, Kepala divisi manajemen rantai pasokan di China Chongqing Hongjiu Fruit, menjelaskan bahwa konektivitas yang meningkat telah menjadi kunci untuk meningkatkan impor durian ke Tiongkok.

"Ada dua alasan utama. Di sisi rantai pasokan, sejak Tiongkok memulai Prakarsa Sabuk dan Jalan, terutama dengan beroperasinya Jalur Kereta Api Tiongkok-Laos-Thailand di Koridor Darat-Laut Barat Baru, hal ini telah meningkatkan efisiensi transportasi kami dan menurunkan biaya. Kami sekarang juga memiliki lebih banyak pelabuhan di Tiongkok selatan, bukan hanya di Hong Kong. Di sisi lain, durian yang dinikmati masyarakat sebelumnya sebagian besar berasal dari Thailand, tetapi pada tahun 2022, Vietnam juga mulai mengekspor durian ke Tiongkok, yang membawa persaingan positif. Jadi, sejak bulan Mei harga durian turun, dan para pecinta durian kami memiliki akses untuk mendapatkan buah ini sepanjang tahun," jelas Li.

Li juga mencatat bahwa kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) telah memainkan peran penting dalam meningkatkan persaingan antar eksportir.

RCEP terdiri dari 15 negara Asia Pasifik termasuk 10 negara anggota ASEAN dan lima mitra dagang, yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru. RCEP merupakan kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia yang mencakup sekitar 30 persen populasi dunia, dan 30 persen volume ekonomi dan perdagangan dunia.

Menurut seorang staf Bea Cukai Chongqing, durian dari Thailand hanya membutuhkan waktu lima hari untuk mencapai Chongqing melalui Jalur Kereta Api Tiongkok-Laos-Thailand, yang telah membantu kota yang semarak ini menjadi pusat utama distribusi durian di negara ini.

"Hingga Agustus tahun ini, Chongqing telah mengimpor 3,44 miliar yuan (sekitar 7,2 triliun rupiah) buah dari Asia Tenggara, naik 3,5 persen dari tahun ke tahun. Diantaranya, nilai impor durian segar adalah 2,6 miliar yuan (sekitar 5,5 triliun rupiah), dengan peningkatan tujuh persen dari tahun lalu, menyumbang 75,5 persen dari impor buah Chongqing dari Asia Tenggara pada periode yang sama," jelas Yang Shuai, staf di Bea Cukai Chongqing.

Kini, Bea Cukai Chongqing juga bekerja sama dengan mitranya di Kunming, Provinsi Yunnan, barat daya Tiongkok, untuk meningkatkan efisiensi proses perizinan hingga satu jam, yang bertujuan untuk lebih mempercepat pengiriman buah dari Asia Tenggara ke konsumen Tiongkok.