Shanghai, Radio Bharata Online - Penyelidikan antisubsidi Uni Eropa terhadap kendaraan listrik (EV) buatan Tiongkok telah berubah dari masalah ekonomi menjadi sekadar manipulasi politik, kata seorang profesor Tiongkok dan mantan pejabat senior pemerintah di Forum Ekonomi Internasional Hongqiao (HQF) ke-7 di Shanghai.

Meskipun ada perpecahan tajam di antara negara-negara anggota dan pertentangan yang meluas, Komisi Eropa, badan eksekutif dari 27 negara anggota UE, mengumumkan pada tanggal 29 Oktober 2024 bahwa mereka telah menyelesaikan penyelidikan antisubsidi dan memutuskan untuk mengenakan bea masuk imbalan definitif atas impor EV baterai baru dari Tiongkok untuk jangka waktu lima tahun.

Berbicara di Forum Hongqiao, Profesor Jiang Xiaojuan dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok menyoroti bahwa perselisihan tersebut tidak lagi tentang subsidi atau dumping, tetapi dalih politik Eropa untuk melawan keberadaan pasar EV Tiongkok.

"Saya melakukan tiga perjalanan ke Eropa tahun lalu, dua di antaranya terkait dengan sengketa kendaraan listrik. Saya memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang hal itu. Sekarang sengketa kendaraan listrik bukan lagi masalah penalaran tentang apakah kita memiliki subsidi, atau apakah kita melakukan dumping. Sebaliknya, Eropa sekarang mencari alasan untuk melindungi diri dari dampak EV Tiongkok, mencari alasan untuk melawannya," kata Jiang, yang juga mantan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Negara Tiongkok.

Jiang berbagi cerita tentang negosiasinya dengan pihak UE, tetapi menyesalkan ketidakmampuan UE untuk menanggapi bukti dan angka kuat yang disajikan oleh Tiongkok yang memperlihatkan standar ganda dan kepicikannya dalam menghadapi persaingan global.

"Saya berusaha keras pada perjalanan pertama saya, melakukan perhitungan yang sangat rinci tentang subsidi tahunan Tiongkok untuk kendaraan listrik dan cara penghitungannya. Saya memberi tahu pihak Eropa bahwa ketika kami mulai mensubsidi kendaraan energi baru pada tahun 2001, tidak ada satu pun kendaraan yang diekspor hingga tahun 2016. Saat itu, subsidi ditujukan untuk mendorong kendaraan energi baru agar dapat bersaing dengan kendaraan berbahan bakar di pasar domestik dan mempromosikan pengembangan energi hijau. Dan pada tahun 2016, ketika kendaraan energi baru Tiongkok benar-benar mulai diekspor, subsidi kami dikurangi secara drastis. Saya katakan bahwa saya memahami bahwa ada juga subsidi yang tinggi untuk pembelian kendaraan energi baru di Eropa. Misalnya, pembelian Tesla dapat disubsidi sebesar 7.000 hingga 9.000 dolar AS. Kita semua memiliki niat yang sama, yaitu untuk mempromosikan pengembangan kendaraan energi baru," jelas Jiang.

Ekonom tersebut menyatakan penyesalannya atas kegagalan terlibat dalam dialog dengan pihak Eropa mengenai masalah ini karena sifat argumen tersebut telah melampaui aturan perdagangan.

"Banyak akademisi dan pejabat di Eropa kesulitan melanjutkan pembicaraan saat saya menyinggung masalah ini. Mereka tidak bisa mengatakan bahwa Tiongkok memberikan subsidi lebih besar, atau bahwa Tiongkok bertindak tidak adil. Pada akhirnya, mereka hanya sampai pada kesimpulan bahwa kendaraan listrik Tiongkok memberi dampak yang terlalu besar pada industri otomotif lokal Eropa, dan Eropa kurang memiliki daya saing di jalur baru ini, dan karena itu mereka tidak dapat menerimanya. Ini bukan lagi sekadar masalah yang harus dibahas para ekonom, tetapi lebih merupakan masalah politik," kata Jiang.

Forum Ekonomi Internasional Hongqiao, yang mencakup forum utama dan 19 subforum, merupakan bagian penting dari Pameran Impor Internasional Tiongkok (CIIE) ke-7 yang berlangsung di Shanghai dari Selasa (5/11) hingga Minggu (10/11).