Chanthaburi, Radio Bharata Online - Keinginan Tiongkok akan 'raja buah' telah mendorong bisnis durian Thailand ke rekor tertinggi, dan menciptakan peluang ekonomi yang signifikan bagi para petani.

Kehidupan Kanjana dan Apichet 29 tahun yang lalu sangat berbeda. Saat itu, Apichet hanyalah seorang teknisi pabrik, dan Kanjana adalah seorang penjual buah. Tapi, ketika semakin banyak pesanan durian datang dari Tiongkok dan potensi keuntungan dari buah ini semakin jelas, Apichet berhenti dari pekerjaannya, dan pasangan suami-istri ini pun mengambil langkah berisiko dalam bisnis ini-dengan hanya berfokus pada produksi durian.

Risiko tersebut terbukti membuahkan hasil karena pasangan ini sekarang mengelola salah satu perusahaan pengemasan durian terbesar di Thailand.

"Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di level ini. Sebelumnya, ketika kami melakukan penjualan grosir, kami mendapatkan antara 100 hingga 5.000 baht per hari (sekitar 44 ribu hingga 2,2 juta rupiah). Ketika kami pindah ke pasar yang lebih besar, kami menghasilkan hingga 100.000 baht (sekitar 44 juta rupaih). Sekarang, setelah menciptakan bisnis ekspor kami sendiri, kami tidak hanya menghasilkan jutaan, tetapi ratusan juta Baht," ujar Apichet Chitfour, yang kini menjadi salah satu pemilik Rachadurian Company Ltd.

Selama pandemi, pasangan ini terkejut dengan meningkatnya permintaan durian dari Tiongkok. Perusahaan mereka mengekspor durian senilai lebih dari 2,7 juta dolar AS (sekitar 44 miliar rupiah) dalam satu tahun.

Kanjana dan Apichet telah membangun hubungan dengan para petani di seluruh negeri, memastikan mereka dapat mengekspor buah musiman sepanjang tahun.

Mereka membekukan durian kelas premium untuk diekspor guna mengatasi masa simpan buah yang pendek. Durian Grade A yang matang dibekukan pada suhu minus 40 derajat Celcius selama 12 jam sebelum pengiriman.

Pada tahun 2023, ekspor durian dari Asia Tenggara ke Tiongkok mencapai 6,7 miliar dolar AS (sekitar 109 triliun rupiah), 12 kali lipat lebih banyak dari tahun 2017. Tahun ini, Thailand telah mengekspor hingga 2,4 miliar dolar AS (sekitar 39 triliun rupiah) ke Tiongkok, dengan pertumbuhan 3-4 persen.

Salah satu alasan utama pertumbuhan ini adalah meningkatnya jalur transportasi untuk durian-truk, kapal, pesawat terbang, dan kereta api berkecepatan tinggi yang baru saja dibangun.

"Di masa lalu, sulit untuk melakukan pengiriman durian segar jarak jauh. Saat ini, transportasi yang dikembangkan seperti kereta api berkecepatan tinggi memungkinkan kami untuk melakukan pengiriman buah segar dengan lebih cepat. Kami kemudian dapat memperluas pasar kami lebih jauh lagi," kata Wichai Siramanakul, CEO Ntf Intergroup.

Eksportir Thailand mengharapkan pertumbuhan lebih lanjut dalam lima tahun ke depan karena durian mencapai kota-kota sekunder di Tiongkok. Meskipun ada pemain lain yang masuk, seperti Vietnam, petani Thailand percaya diri dengan hasil panen mereka karena dibutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk membudidayakan durian dengan tekstur dan rasa yang tepat.

"Untuk menjadi seorang ahli, Anda harus bisa mendeteksi perbedaan daging durian. Anda harus sangat tekun mempelajari cara membedakannya. Anda harus tahu warna apa yang menandakan durian itu manis dan warna apa yang menandakan durian itu tidak manis. Anda harus terus belajar sampai menjadi ahli," kata Apichet.

Petani seperti Apichet sangat antusias dengan masa depan karena semakin banyak konsumen Tiongkok yang jatuh cinta dengan "raja buah" ini. Bagi mereka, itu hanyalah awal dari mimpi mereka yang menjadi kenyataan.