BEIJING, Radio Bharata Online – Manila menaikkan taruhan dalam perselisihan dengan Beijing atas Laut Tiongkok Selatan, karena Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr tidak akan memindahkan kapal perang yang dikandangkan di Ren'ai Reef di Kepulauan Nansha Tiongkok.

Hal itu diketahui setelah Kementerian Luar Negeri Tiongkok mendesak Filipina untuk memindahkan kapal perang usang yang dikandangkan seperti yang dijanjikan.

Namun menurut laporan Media, Marcos Jr mengaku tidak mengetahui adanya janji semacam itu. Pada hari Rabu Marcos Jr mengatakan, jika memang ada kesepakatan seperti itu, dia akan batalkan saat itu juga. 

Pakar militer dan komentator TV Tiongkok Song Zhongping mengatakan, Tiongkok berhak untuk menghapus kapal perang Filipina yang dikandangkan, dan akan menyelesaikan masalah yang ditinggalkan oleh sejarah, pada waktu yang tepat dengan metode yang tepat.  Karena Tiongkok memiliki kendali atas situasi secara keseluruhan.

Menurut Song, Kapal perang Filipina ditelantarkan secara ilegal di Ren'ai Reef sejak tahun 1999, yang segera memicu protes serius dari Tiongkok. Setelah 24 tahun, kapal perang usang itu tidak hanya dibiarkan terapung, tetapi juga ada upaya untuk memperbaiki dan memperkuatnya, yang bertujuan untuk menduduki pulau karang Ren'ai secara permanen.

Dugaan baru-baru ini tentang Ren'ai Reef, memiliki unsur AS yang kuat. Song meramalkan bahwa Filipina akan meminta dukungan AS yang lebih kuat, dan melibatkan lebih banyak sekutu AS untuk mendukungnya.

Song meramalkan, bahwa AS akan mengirim kapal perangnya ke Laut Tiongkok Selatan untuk menunjukkan komitmen kepada Filipina, untuk mempertahankan struktur aliansi. (Global Times)