Wina, Radio Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok mengatakan pada hari Rabu (5/6) bahwa konfrontasi tidak akan menyelesaikan masalah nuklir Iran, dan satu-satunya solusi yang tepat adalah menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran.
Li Song, Perwakilan Tetap Tiongkok untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyampaikan pernyataan itu setelah Dewan Gubernur 35 negara di badan tersebut mengesahkan sebuah resolusi pada hari itu untuk menekan Iran terkait isu nuklirnya di Wina.
Resolusi ini diusulkan oleh Perancis, Inggris dan Jerman. Di antara 35 negara yang hadir, Tiongkok dan Rusia memberikan suara menentang resolusi tersebut, sementara 12 negara berkembang lainnya, termasuk Afrika Selatan, India, Arab Saudi, Indonesia, dan Turki, memberikan suara abstain.
Li mencatat bahwa Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, melakukan kunjungan yang sukses ke Iran pada awal Mei 2024 dan telah mempertahankan pertukaran yang konstruktif dengan pihak Iran, dan kedua belah pihak telah berkomitmen untuk mendorong pekerjaan pengamanan IAEA di Iran.
Ia juga menunjukkan bahwa Iran baru saja berkabung nasional menyusul meninggalnya Presiden Ebrahim Raisi dan akan menyelenggarakan pemilihan presiden akhir bulan ini. Dalam konteks khusus ini, langkah beberapa negara tertentu untuk memprovokasi konfrontasi demi tujuan politik tidak konstruktif bagi penyelesaian politik isu nuklir Iran.
Li mengatakan fakta telah membuktikan berkali-kali bahwa menciptakan konfrontasi dan memberikan tekanan tidak akan menyelesaikan masalah nuklir Iran, tetapi akan merusak kerja sama antara IAEA dan Iran dan semakin memperumit masalah ini.
Utusan Tiongkok itu menekankan pentingnya kembali ke kesepakatan nuklir Iran 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Li mengatakan Amerika Serikat, sebagai penyabot JCPOA, harus sepenuhnya menunjukkan ketulusannya dan bekerja sama dengan semua pihak untuk memulihkan implementasi JCPOA yang lengkap dan efektif.
Ia pun menambahkan bahwa Tiongkok mendesak semua pihak untuk melihat situasi saat ini dengan cara yang tenang dan bertanggung jawab, mengambil tindakan konkret untuk mendukung penguatan kerja sama antara IAEA dan Iran, dan membawa upaya politik dan diplomatik untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran kembali ke jalur yang benar.
Iran menandatangani JCPOA dengan negara-negara besar dunia pada bulan Juli 2015, menyetujui pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi. Tapi, Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut pada bulan Mei 2018, menerapkan kembali sanksi dan mendorong Iran untuk mengurangi beberapa komitmen nuklirnya.
Upaya untuk menghidupkan kembali JCPOA dimulai pada April 2021 di Wina, tetapi meskipun telah dilakukan beberapa putaran negosiasi, tidak ada kemajuan substansial yang dilaporkan sejak perundingan terakhir pada Agustus 2022.