Beijing, Radio Bharata Online - Menurut sebuah simposium internasional tentang modernisasi pendidikan dan perlindungan hak atas pendidikan di Tibet, pemerintah pusat Tiongkok telah menginvestasikan sekitar 250 miliar yuan (36 miliar dolar AS) untuk pendidikan Tibet selama 70 tahun terakhir setelah pembebasan damai wilayah tersebut pada tahun 1951 silam, di mana siswa sekarang mendapat manfaat dari 15 tahun pendidikan yang didanai publik.
Simposium itu diadakan di Beijing pada hari Selasa (28/3) lalu, yang bertepatan dengan peringatan Hari Emansipasi Budak di Tibet yang sudah berjalan sejak tahun 2009 silam.
Masyarakat Tiongkok untuk Studi Hak Asasi Manusia, Asosiasi Tiongkok untuk Pelestarian dan Pengembangan Budaya Tibet dan Pusat Penelitian Tibetologi Tiongkok menjadi tuan rumah bersama simposium tersebut, dan merangkum pencapaian sejarah yang telah dibuat Tiongkok dalam pendidikan Tibet, terutama di era baru.
Selama 70 tahun terakhir, pemerintah pusat telah memperkenalkan banyak kebijakan yang menguntungkan bagi daerah, meliputi pajak dan keuangan, infrastruktur, pengembangan industri, pendidikan, kesehatan, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.
Para ahli mengatakan bahwa pada akhir tahun 2021, Tibet memiliki 3.339 sekolah dari semua tingkatan dan jenis, dengan tingkat retensi pendidikan wajib mencapai 96,04 persen.
Menurut para pakar pendidikan, sistem sekolah berasrama di Tibet juga telah memastikan bahwa siswa pedesaan dan perkotaan sama-sama dapat menerima pendidikan berkualitas dan kehendak orang tua maupun siswa dihormati sepenuhnya ketika memilih untuk tinggal di sekolah atau tidak.
Xiao Jie, Wakil Direktur Institut Studi Kontemporer di Pusat Penelitian Tibetologi China membantah klaim baru-baru ini yang menyebut bahwa siswa Tibet diambil dari keluarga mereka dan dipaksa untuk tinggal di sekolah. Menurutnya, itu merupakan tuduhan tidak berdasar dan memiliki agenda politik yang jelas.
"Menurut penelitian kami dan beberapa percakapan off-the-record dengan penduduk setempat, tidak ada orang tua yang mengatakan bahwa mereka telah dipaksa untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah berasrama. Meskipun banyak sekolah di Tibet menyediakan akomodasi, itu terserah kepada siswa dan orang tua mereka untuk memilih apakah mereka ingin tinggal di sekolah atau tidak," ujarnya.
"Sebenarnya, kami menemukan banyak siswa yang tinggal di dekat sekolah memilih untuk tidak tinggal di sekolah, yang benar-benar diperbolehkan," lanjut Xiao, yang baru kembali dari Tibet setelah melakukan penelitian tentang pesantren di daerah tersebut.
Cendekiawan Tibet, Kelsang Drolma, mengatakan bahwa saat ini Tibet mengutamakan pengembangan pendidikan normal dan menganut pendidikan dwibahasa dalam bahasa Tibet dan Mandarin. Menurutnya, proporsi guru di Tibet lebih tinggi dari rata-rata nasional.
"Dari tahun 1951 sampai 1959, jumlah guru sekolah dan staf administrasi di Tibet hanya sekitar 600 orang. Tetapi sekarang, jumlah guru penuh waktu di Tibet adalah 58.000. Jika jumlah staf administrasi dihitung, jumlahnya akan sangat besar, mencatat peningkatan yang nyata," ungkapnya.