Bharata Online - Rangkaian siklon dan badai tropis yang dahsyat telah mengakibatkan banjir parah, tanah longsor, dan kerusakan luas di seluruh Asia Selatan dan Tenggara dalam beberapa hari terakhir, menewaskan lebih dari 1.100 orang dan memengaruhi jutaan orang.
Beberapa negara telah melaporkan kerusakan skala besar, sementara tim bantuan mengalami kesulitan dalam menjangkau masyarakat terpencil dan memulihkan layanan penting.
Daerah terdampak banjir di Meureudu, Indonesia, 30 November 2025. /VCG
Di Indonesia, hujan deras memicu banjir besar dan tanah longsor di Sumatera bagian barat, menyebabkan lebih dari 600 kematian, menurut data terbaru yang dilaporkan oleh otoritas regional dan nasional, dengan lebih dari 400 orang masih hilang.
Akses ke banyak kabupaten masih terbatas karena jalan yang terblokir dan jaringan telekomunikasi yang rusak, sehingga tim bantuan sangat bergantung pada helikopter.
Seluruh komunitas telah tersapu, dan lebih dari 200.000 orang telah mengungsi. Para penyintas menceritakan bagaimana mereka kembali dan mendapati rumah mereka hancur, sementara para pejabat memperingatkan tentang meningkatnya keputus-asaan di daerah-daerah yang terisolasi.
Petugas membersihkan tumpukan tanah dan puing dari jalan pintas Hat Yai-Pattani di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, 27 November 2025. /VCG
Di Thailand, provinsi-provinsi di selatan telah mencatat lebih dari 260 korban jiwa akibat dua badai tersebut, dengan otoritas setempat mencatat curah hujan yang sangat tinggi.
Provinsi Songkhla adalah yang paling terdampak, melaporkan lebih dari 130 kematian, setelah hujan deras yang belum pernah terjadi sebelumnya, menggenangi Hat Yai dan sekitarnya.
Hampir tiga juta orang terdampak di seluruh negeri. Banjir berangsur-angsur surut, tetapi tim tanggap darurat terus membersihkan puing-puing dan membuka kembali rute transportasi utama.
Kawasan permukiman terendam banjir di Kangar, negara bagian Perlis, Malaysia utara, pada 27 November 2025. /VCG
Di Malaysia, dampaknya relatif terbatas tetapi masih parah di beberapa wilayah. Pihak berwenang melaporkan beberapa kematian dan banjir yang meluas, saat badai tersebut kembali menghantam Semenanjung Malaysia.
Hampir 20.000 orang masih berada di pusat-pusat evakuasi. Malaysia juga mengevakuasi ribuan warga negaranya yang terlantar di Thailand, dan mengeluarkan imbauan bagi warga negaranya di Sumatera Barat Indonesia, di mana seorang warga negara Malaysia dilaporkan hilang.
Sebuah becak motor terdampar setelah hujan deras di Wellampitiya, pinggiran Kolombo, Sri Lanka, 30 November 2025. /VCG
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake pada hari Minggu menggambarkan krisis cuaca ekstrem yang sedang berlangsung, sebagai bencana alam terburuk yang pernah dihadapi negara tersebut, dan menjanjikan dukungan penuh negara, untuk pemulihan pascabencana.
Dalam pidato khusus kepada rakyat, presiden mengatakan bahwa pemerintah memiliki tiga tanggung jawab selama bencana, yakni mengelola keadaan darurat, memulihkan keadaan normal, dan membangun kembali negara ke kondisi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Ia mengatakan bahwa Keadaan Darurat Publik yang saat ini berlaku, hanya terbatas pada penanggulangan bencana, dan tidak akan membatasi kebebasan sipil. Ia menambahkan bahwa langkah-langkah mendesak sedang dilakukan untuk memulihkan layanan penting, termasuk pasokan air, listrik, dan jaringan komunikasi, yang telah terganggu di banyak wilayah.
Menurut Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka, pada Minggu pukul 18.00 waktu setempat, cuaca buruk di negara itu telah menewaskan 334 orang dan setidaknya 370 lainnya hilang. (Xinhua)