Lhasa, Bharata Online - Konferensi Komunikasi Internasional Tibet kedua resmi dibuka pada hari Selasa (16/6) di Lhasa, mempertemukan jurnalis, akademisi, dan kreator konten dari seluruh dunia untuk membahas bagaimana cara yang lebih efektif untuk berbagi kisah otentik tentang Tibet dengan audiens global.
Selama bertahun-tahun, persepsi internasional tentang Tibet sering kali dibentuk oleh informasi yang salah, narasi politik, dan stereotip yang sudah lama ada. Banyak audiens di luar negeri memiliki akses terbatas terhadap laporan langsung tentang perkembangan, budaya, dan kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut.
Menurut Daniel Dumbrill, seorang kreator konten Kanada yang menghadiri pertemuan tersebut, media luar negeri sering kali secara keliru menggambarkan perkembangan Tibet sebagai sesuatu yang menginjak-injak tradisi dan budaya yang kaya di wilayah tersebut.
"Seolah-olah para aktivis atau jurnalis di luar negeri ingin mereka tetap terjebak di masa lalu sementara mereka menikmati kehidupan modern mereka," kata Dumbrill.
Para peserta konferensi membantah bahwa pembangunan di wilayah tersebut, yang dicapai melalui tindakan tegas, telah membuka peluang baru bagi masyarakat di wilayah tersebut sekaligus melestarikan warisan budaya.
"Tiongkok benar-benar efektif bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata. Tindakan nyata Tiongkok, pemerintah Tiongkok, dan rakyat Tiongkok, jauh lebih baik daripada kata-kata apa pun yang dapat diucapkan kepada audiens asing kita," kata Vsevolod Pulya, Kepala RT Tiongkok.
Para ahli media dari Tiongkok menekankan bahwa, seiring dengan semakin beragam dan efisiennya saluran informasi, negara tersebut kini memiliki lebih banyak cara untuk menyajikan gambaran Tibet yang lebih lengkap dan multidimensi kepada dunia.
"Kita memiliki berbagai cara, termasuk film dan produksi TV serta trio baru (literatur online, game online, dan drama serta film TV online), untuk menarik orang ke Tibet agar mempelajari tentang wilayah tersebut dan melihat bagaimana kaum muda di sini hidup. Kita memiliki beragam saluran dan metode yang terus berkembang yang dapat kita gunakan," ujar Prof. Cheng Manli, Dekan Kehormatan Institut Komunikasi Internasional di Universitas Peking.
Para peserta menyatakan harapan bahwa dunia luar dapat memperoleh pemahaman yang lebih jelas dan seimbang tentang Tibet seiring dengan semakin banyaknya suara internasional yang dibawa ke dalam percakapan.