Xiong'an, Bharata Online - Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum (WEF), memuji usulan tata kelola global dari Tiongkok dan menyerukan agar konsensus yang dicapai diwujudkan ke dalam tindakan nyata. Dalam Forum Tata Kelola Global 2026 di Xiong'an, ia juga mendesak perlunya pemikiran ulang mendasar mengenai tata kelola global di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Forum yang berlangsung selama tiga hari tersebut berakhir pada hari Minggu (25/10) di Kawasan Baru Xiong'an, Provinsi Hebei, Tiongkok Utara. Acara ini dihadiri oleh sekitar 400 pejabat dari berbagai penjuru dunia untuk membahas tantangan bersama, yakni memulihkan kepercayaan, membangun kembali kerja sama, serta mereformasi tata kelola global di dunia yang tengah mengalami transformasi cepat.
Dalam wawancara eksklusif dengan China Central Television (CCTV) di sela-sela forum, Schwab mengungkapkan bahwa ia pertama kali berkunjung ke Tiongkok pada tahun 1979. Selama lebih dari empat dekade, ia telah menyaksikan pesatnya pembangunan ekonomi Tiongkok serta peran negara tersebut yang terus berkembang dalam tata kelola global. Menurutnya, Tiongkok kini memikul tanggung jawab internasional yang lebih besar.
Saat pertama kali mengunjungi Xiong'an, Schwab mengaku terkesan dengan perpaduan harmonis antara modernitas dan tanggung jawab terhadap lingkungan di kota tersebut.
"Ini adalah kunjungan pertama saya ke Xiong'an, dan saya sangat terkesan. Modernitas serta fungsionalitas kota ini sungguh unikāsebuah perpaduan antara kemajuan modern dan tanggung jawab lingkungan. Kota ini dirancang untuk efisiensi, sekaligus untuk mendukung kehidupan yang nyaman; kota ini menggabungkan berbagai keunggulan dengan cara yang sangat inovatif. Jadi, saya benar-benar terkesan," ujarnya.
Pada tahun 2025, Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengusulkan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI). Inisiatif ini dirancang untuk menawarkan solusi ala Tiongkok atas dua pertanyaan mendesak di era ini: sistem tata kelola global seperti apa yang harus dibangun, serta bagaimana tata kelola global dapat direformasi dan ditingkatkan.
Pada upacara pembukaan Forum Xiong'an, Tiongkok meluncurkan delapan langkah praktis untuk mengimplementasikan GGI lebih lanjut. Schwab menilai langkah tersebut sebagai wujud nyata dari tanggung jawab Tiongkok sebagai negara besar, sekaligus menunjukkan bahwa inisiatif ini secara bertahap terus diubah dari sekadar konsep menjadi praktik nyata.
"Menurut saya, pesan tersebut sangatlah penting. Tentu saja, kita sudah lama membicarakan reformasi sistem tata kelola global, namun kemajuan yang dicapai masih minim. Kita perlu memikirkan lebih dalam seperti apa seharusnya tata kelola global itu. Kita sudah memiliki beberapa gagasan umum. Saya rasa Inisiatif Tata Kelola Global dari Presiden Xi telah meletakkan dasar, tetapi kini kita harus menyusun perinciannya. Kedelapan usulan tersebut merupakan langkah konkret untuk bergerak maju. Menurut saya, pembentukan Institut Tata Kelola Global adalah gagasan yang sangat baik," ujarnya.
Schwab menyatakan bahwa ia sangat sejalan dengan visi Tiongkok mengenai tata kelola global yang didasarkan pada konsultasi ekstensif, kontribusi bersama, dan manfaat bersama. Ia mencatat bahwa kecerdasan buatan (AI) kini tengah mengubah sistem pengetahuan, kehidupan ekonomi, dan masyarakat manusia, sementara rentang waktu bagi umat manusia untuk mengarahkan transformasi ini tergolong singkat.
Ia menekankan bahwa komunitas internasional sangat membutuhkan sistem tata kelola global yang sesuai dengan kebutuhan era kecerdasan, guna mengatasi risiko nyata di mana sistem AI bisa lepas kendali.
"Terutama dalam satu tahun terakhir, muncul dimensi baru yang kini menjadi prioritas bagi tata kelola global. Inilah yang saya sebut sebagai 'era kecerdasan', yang mencakup kecerdasan buatan, namun tidak terbatas pada hal itu saja. Terdapat banyak teknologi baru lainnya, dan teknologi-teknologi tersebut tidak boleh berada di atas hukum. Kita harus segera bertindak. Kita perlu menciptakan kerangka perlindungan yang diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi-teknologi tersebut, khususnya AI, benar-benar melayani kepentingan bersama serta menghadirkan peluang baru, bukan sekadar mendatangkan risiko," jelas Schwab.