Dikabarkan, Konferensi Menteri Lingkungan dan Iklim G20 baru-baru ini ditutup di Chennai, India. Sejumlah media mengatakan pendirian Tiongkok menghambat tercapainya kesepakatan mengenai emisi karbon, penghentian bahan bakar fosil, peningkatan penggunaan energi baru terbarukan.

Mengenai hal itu, jubir Kemenlu Tiongkok mengatakan, laporan terkait sama sekali bertentangan dengan kenyataan. Pada tanggal 28 Juli lalu, Konferensi Menteri Lingkungan dan Iklim G20 mencapai dokumen kesepahaman dan kesimpulan ketua, serta mencapai hasil seimbang yang positif.  Namun, diganggu oleh sejumlah negara yang memasukkan isu geopolitik tanpa alasan, konferensi gagal mencapai komunike, Tiongkok menyatakan sesal bagi hal tersebut.

Tiongkok berpendapat, G20 sebagai forum utama kerja sama ekonomi internasional, seharusnya mengemban tanggung jawab atas perkembangan berkelanjutan global, mengoordinasi pembangunan ekonomi dan perlindungan ekosistem serta penanganan perubahan iklim. G20 hendaknya mengumpulkan kesepakatan politik dari berbagai negara, sepenuhnya menghormati tahap perkembangan dan keadaan berbeda berbagai negara, bertukar dan berbagi praktik terbaik, pengalaman dan pelajaran, mendorong berbagai negara meningkatkan tindakan pragmatis, mendorong komunitas internasional bersolidaritas dan bekerja sama, dengan aktif menghadapi perubahan iklim, bersama meningkatkan kepercayaan dan kemampuan seluruh dunia untuk mewujudkan rendah karbon dan perkembangan berkelanjutan. G20 harus di atas dasar dengan sepenuhnya menghormati dan menaati target, prinsip dan kerangka yang ditentukan oleh Perjanjian Kerangka Perubahan Iklim PBB dan Persetujuan Paris, menambahkan isi bermanfaat bagi perundingan jalur utama perubahan iklim PBB, menjamin tidak terjadinya kesenjangan baru Selatan-Utara, mewujudkan transformasi hijau dan rendah karbon yang adil secara global. Tiongkok mendesak negara-negara industri dengan tepat memandang  kemampuan, tanggung jawab dan kewajiban dalam menangani perubahan iklim, lebih lanjut meningkatkan intensitas pengurangan emisi, selekasnya menunaikan komitmennya, memberikan uang dan teknologi kepada negara-negara berkembang untuk menangani perubahan iklim, menghentikan tindakan unilateral, aksi pelepasan keterkaitan dan hambatan perdagangan serta aksi merusak penanganan perubahan iklim.

Tiongkok adalah aktivis yang mendorong pengelolaan perubahan iklim global, telah membangun sistem politik 1+n untuk menuntaskan komitmen karbon ganda, telah membangun jaringan pembangkit listrik bersih yang terbesar di dunia, menyumbang 25 persen areal tambahan penghijauan di dunia pada abad ini, dan dengan laju pertumbuhan 3 persen konsumsi energi per tahun telah mendukung 6,2 persen pertumbuhan ekonomi, Tiongkok telah menjadi salah satu negara yang tercepat dalam penurunan konsumsi energi, juga adalah negara dengan paling banyak kapasitas terpasang listrik tenaga air, listrik tenaga angin dan listrik tenaga solar.

Sementara itu, Tiongkok dengan semaksimal mungkin memberikan dukungan dan bantuan kepada negara-negara berkembang, telah menandatangani 43 buah dokumen kerja sama Selatan-Selatan dengan 38 negara, melatih sekitar 2000 pejabat dan teknisi dari 120 negara berkembang, Tiongkok memberikan sumbangan positif demi membangun sistem tata kelola iklim global yang adil, rasional, bekerja sama dan menang bersama.

Tiongkok akan terus bertukar kebijakan dan melakukan kerja sama pragmatis dengan berbagai negara di bidang lingkungan dan iklim dalam kerangka G20, bersama mendorong perkembangan berkelanjutan global yang hijau dan rendah karbon.

Pewarta : CRI