Jakarta, Bharata Online - “Ikatan sosial budaya adalah jiwa sejati dari hubungan Indonesia dan Tiongkok,” kata Thung Julan, peneliti di Pusat Riset Sosial dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta pada Selasa (30/6). Ia menyampaikan bahwa kerja sama kedua negara tidak hanya terwujud dalam proyek-proyek besar, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada hari yang sama, seminar internasional bertema “Inisiatif Peradaban Global” dan semangat Cheng Ho yang diselenggarakan oleh Kantor Informasi Pemerintah Provinsi Yunnan dan Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Yunnan digelar di Jakarta.
Indonesia dan Tiongkok menjalin kemitraan strategis komprehensif pada 2013. Pada 2024, kedua negara mengeluarkan pernyataan bersama yang meningkatkan hubungan menjadi “komunitas senasib sepenanggungan”, sekaligus membangun kerangka kerja sama dengan “lima pilar utama”: politik, ekonomi, kemaritiman, social budaya, dan keamanan.
Dalam prosesnya, “konektivitas erat” kedua negara menunjukkan hasil yang nyata. Thung Julan mengatakan Prakarsa Sabuk dan Jalan Tiongkok terhubung dengan konsep “Poros Maritim Dunia” Indonesia, melahirkan sejumlah hasil kerja sama berupa pelabuhan, kawasan industri, dan simpul transportasi. Yang paling mewakili adalah kereta cepat Jakarta-Bandung yang oleh masyarakat Indonesia disebut “Whoosh”, yang telah memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung dari lebih dari tiga jam menjadi sekitar 40 menit.
“Konektivitas hati” pun dapat dirasakan secara nyata. “Proyek besar pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” kata Thung Julan. Ia menyebutkan perusahaan-perusahaan Tiongkok terlibat mendalam dalam pusat pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Teluk Weda, Maluku Utara, sehingga bahan baku diolah dan bernilai tambah di dalam negeri Indonesia serta mendorong peningkatan pendapatan puluhan ribu warga setempat. Sementara itu, ribuan pelajar Indonesia membawa pulang ilmu teknik, kecerdasan buatan, dan kedokteran yang mereka pelajari di Tiongkok.
Kedekatan hati ini memiliki akar yang lebih dalam. Lebih dari 600 tahun lalu, Cheng Ho, penjelajah samudra kelahiran Yunnan, memimpin armadanya singgah beberapa kali di Jawa, Sumatera, dan wilayah lain, menjalin hubungan baik melalui perdagangan, diplomasi, dan pertukaran budaya. Pengaruhnya berlanjut hingga kini — Kota Semarang di Jawa dinamai untuk mengenangnya, dan hingga sekarang tetap menjadi saksi persahabatan antara masyarakat kedua negara.
Menurut Thung Julan, prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan yang dianut Cheng Ho hingga kini masih menjadi cerminan sejarah bagi kedekatan hati rakyat kedua negara.
“Dengan mengikuti jejak hubungan lama ini, Yunnan dapat bersama Indonesia menghidupkan kembali budaya Cheng Ho dan membuka jalinan baru,” kata Thung Julan. Ia menyarankan agar kedua wilayah membangun bersama jalur wisata dan studi bertema Cheng Ho, mendorong kunjungan timbal balik dan riset bersama antara dosen dan mahasiswa perguruan tinggi, serta memanfaatkan media digital untuk membentuk kembali pemahaman publik dan menghilangkan stereotip. Selain itu, kedua pihak juga dapat saling belajar dalam transisi hijau dan pengembangan tenaga produktif jenis baru.
“Modernisasi bukanlah jalan satu arah yang sempit, melainkan jalan tol dengan banyak jalur,” kata Thung Julan. Inisiatif Peradaban Global mendorong dialog yang setara antarperadaban. Tiongkok telah membuka jalan modernisasi dengan ciri khasnya sendiri, sementara Indonesia juga sedang membuka jalannya sendiri yang berakar dalam tradisinya. Meski jalur kedua negara berbeda, arah yang dituju sama. Yang membuat kemitraan ini berjalan jauh dan stabil bukan hanya modal, tetapi juga saling pengertian sosial budaya dan kepercayaan.