Beijing, Radio Bharata Online - Tiongkok perlu meningkatkan koordinasi dengan organisasi ekonomi internasional utama untuk menegakkan multilateralisme dan menjaga perdagangan bebas serta globalisasi ekonomi, kata para ahli saat para kepala 10 organisasi ekonomi internasional berkumpul di Beijing untuk dialog "1+10".
Dengan tema 'Membangun Konsensus tentang Pembangunan untuk Mempromosikan Kemakmuran Bersama Global', Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, menjadi tuan rumah dialog tersebut pada hari Senin (9/12). Presiden Tiongkok, Xi Jinping, juga bertemu dengan para tamu asing pada hari Selasa (10/12).
Beberapa pakar Tiongkok dalam politik dan ekonomi internasional mencatat bahwa dialog "1+10" berlangsung pada waktu yang tepat.
Mereka mengatakan bahwa di tengah berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi ekonomi global, seiring dengan meningkatnya unilateralisme dan proteksionisme, Tiongkok harus memperkuat kolaborasinya dengan organisasi ekonomi internasional utama.
"Sistem perdagangan bebas telah terdampak karena beberapa negara mengabaikan organisasi ekonomi internasional untuk secara sepihak mengenakan tarif tambahan dan mengadopsi langkah-langkah proteksionis perdagangan dan investasi. Dalam konteks ini, Tiongkok harus memperkuat kerja sama yang efektif dengan organisasi ekonomi internasional, dan terlibat dalam dialog dengan para pemimpin utama mereka, tidak hanya untuk menyampaikan suara Tiongkok kepada dunia, tetapi juga untuk menawarkan pemahaman yang lebih jelas tentang dinamika ekonominya," papar Sang Baichuan, Dekan Institut Ekonomi Internasional di Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional.
Para ahli menyatakan bahwa dialog "1+10" telah memicu diskusi tentang strategi untuk mengarahkan ekonomi global menuju pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan.
Mereka mengatakan bahwa Tiongkok, sebagai mesin vital pertumbuhan ekonomi global, akan menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang kuat dan bekerja sama dengan negara lain untuk membangun sistem ekonomi global yang terbuka.
"Kita harus memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi makro di antara negara-negara ekonomi utama untuk secara efektif mengatasi dampak negatif dari ekonomi maju. Kita harus memberi perhatian lebih besar kepada suara-suara dari negara-negara berkembang, dan bersama-sama mengeksplorasi pendorong pertumbuhan ekonomi global, seperti pengembangan ilmiah dan teknologi, pemberdayaan digital, pembangunan hijau, dan faktor-faktor baru lainnya sehingga faktor-faktor tersebut dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," jelas Ren Lin, Direktur Kantor Tata Kelola Global di Institut Ekonomi dan Politik Dunia, Akademi Ilmu Sosial Tiongkok.