Anning, Bharata Online - Tiongkok sedang mempercepat penyediaan sumber daya medis berkualitas tinggi ke wilayah pedesaan guna menjembatani kesenjangan layanan kesehatan antara perkotaan dan pedesaan, serta memajukan tujuan strategis pemerintah untuk mewujudkan "Tiongkok Sehat" pada tahun 2035.

Luas wilayah Tiongkok dan pembangunan yang tidak merata di berbagai daerah sebelumnya menyebabkan sumber daya medis berkualitas tinggi terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga menyulitkan penduduk pedesaan untuk mendapatkan akses layanan kesehatan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Tiongkok telah membangun sistem layanan kesehatan tingkat dasar yang terbesar dan terlengkap di dunia. Saat ini, lebih dari 80 persen wilayah setingkat kabupaten telah mendirikan pusat berbagi sumber daya untuk layanan pencitraan medis, elektrokardiogram (EKG), dan tes laboratorium. Fasilitas itu melayani lebih dari 330 juta orang dan memungkinkan pasien mendapatkan diagnosis setingkat rumah sakit kabupaten secara lokal tanpa harus bepergian ke kota besar.

Di wilayah barat yang memiliki infrastruktur medis lebih terbatas, teknologi telemedis menghubungkan klinik desa secara langsung dengan rumah sakit kabupaten.

Di Kota Anning, Provinsi Yunnan, teknologi 5G memungkinkan transmisi data EKG secara waktu nyata (real-time) dari klinik desa kepada para ahli di rumah sakit kabupaten.

"Tahun ini, kami juga akan membangun sistem diagnosis berbasis kecerdasan buatan (AI) dan mewujudkan cakupan penuh konsultasi jarak jauh yang menjangkau tingkat kabupaten, kota kecil (township), hingga desa, sehingga masyarakat dapat menikmati layanan medis dan kesehatan tepat di dekat tempat tinggal mereka," ujar Song Chao, Pimpinan Konsorsium Medis Anning.

Selain teknologi, Tiongkok juga secara aktif memperkuat tenaga medis di tingkat dasar. Antara tahun 2016 dan 2025, jumlah tenaga medis tingkat dasar meningkat hampir 50 persen, didukung oleh program terarah yang menempatkan dokter umum di pusat kesehatan tingkat kota kecil.

Rumah sakit tingkat atas juga secara rutin mengirimkan tenaga ahli untuk memberikan pelatihan dan bimbingan jarak jauh di wilayah pedesaan. Menjelang akhir tahun 2025, negara ini memiliki 1,39 juta dokter keluarga, dengan 180 juta penduduk lanjut usia terdaftar dalam sistem kesehatan. Hal ini menandai perubahan sistemik dari layanan yang berpusat pada penyakit menjadi layanan yang berpusat pada kesehatan.

"Di desa kami, warga lanjut usia berusia 65 tahun ke atas mendapatkan pemeriksaan fisik gratis setahun sekali. Bagi kami yang menderita penyakit kronis, dokter keluarga datang untuk memeriksa kadar gula darah dan tekanan darah. Kami merasa sangat puas," kata Lin Houze, Warga Desa di Provinsi Sichuan.

Desentralisasi sumber daya medis ini juga memberikan harapan bagi pasien dengan penyakit parah dan kompleks yang berada di wilayah terpencil. Tiga tahun lalu, seorang gadis Tibet bernama Kunsang dari Daerah Otonom Tibet di Tiongkok Barat Daya, yang menderita skoliosis parah, ditemukan dan ditangani oleh tim medis ahli dari Beijing. Setelah menjalani operasi dan rehabilitasi yang sukses, tinggi badannya bertambah dari kurang dari 120 sentimeter menjadi lebih dari 140 sentimeter, dan baru-baru ini ia mulai menempuh pendidikan di universitas.

Belum lama ini, ia turut serta sebagai sukarelawan dalam tim medis yang mengadakan layanan kesehatan keliling gratis di Tibet, sebuah bukti nyata akan dampak mendalam dan berkelanjutan dari program-program layanan kesehatan lapangan tersebut.

"Tiga tahun lalu, para dokter dari Beijing menempuh perjalanan ribuan mil untuk datang ke sini, melakukan operasi, serta membantu proses rehabilitasi saya. Saya tidak pernah membayangkan bisa berada di titik ini sekarang. Kini, saya penuh harapan akan masa depan," ujar Kunsang.

Seiring Tiongkok memasuki periode krusial Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), negara ini akan terus memperkuat jaringan layanan kesehatan di tingkat akar rumput, guna memastikan akses yang merata dan menyeluruh terhadap layanan medis sebagai landasan bagi modernisasi nasional.