BEIJING, Radio Bharata Online - Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah membuat langkah signifikan dalam mengejar pembangunan ekonomi dan budaya berkualitas tinggi, sekaligus menunjukkan komitmen untuk membangun masyarakat yang makmur, dan mempromosikan modernisasi Tiongkok melalui inovasi dan reformasi.
Mengenai kesepakatan Tiongkok dengan pemerintahan AS Donald Trump, meskipun ada harapan luas, namun ada bayang-bayang bahwa Trump akan menerapkan kebijakan dalam dan luar negeri yang sangat mengganggu.
Skenario kasus terbaik adalah kedua negara mengadakan diskusi untuk bernegosiasi, dan menandatangani "paket kesepakatan" yang ringkas tetapi komprehensif, yang lebih selaras dengan kebutuhan dan tujuan ekonomi mereka, dan kondusif bagi koeksistensi damai Tiongkok dan Amerika Serikat.
Kesepakatan terobosan semacam itu diperlukan, untuk mengakhiri krisis keuangan global yang dipicu oleh perang dagang yang meningkat, yang akan mengganggu stabilitas dua ekonomi raksasa itu.
Tidak seperti presiden AS lainnya, Trump adalah pembuat kesepakatan bisnis yang sangat baik, yang dengan senang hati dapat menandatangani perjanjian dua halaman yang menciptakan kerangka kerja baru, yang saling menguntungkan bagi hubungan Tiongkok-AS, jika perjanjian tersebut secara dramatis merangsang ekonomi AS dan menciptakan jutaan lapangan kerja di AS.
Adapun skenario terburuknya adalah, AS mengintensifkan tarif dan perang dagang, dan memicu konfrontasi di sektor teknologi tinggi, dalam upaya untuk mencegah rencana "Made in China 2025".
Perang dagang AS, dapat memicu krisis keuangan dan menghentikan berfungsinya pasar kredit dan modal global. Dalam situasi seperti itu, hanya kesepakatan terobosan antara kedua negara, yang akan mampu memulihkan kepercayaan bisnis, dan menyegarkan kembali pasar modal dan kredit dengan cukup cepat, untuk menghentikan keruntuhan sistem keuangan, ekonomi, dan perdagangan global. (China Daily)