Takeo, Bharata Online - Di sawah-sawah subur Provinsi Takeo, Kamboja, para peneliti Tiongkok membantu petani setempat mengadopsi teknik pertanian ramah lingkungan yang inovatif yang menggabungkan budidaya padi dengan budidaya udang sungai raksasa, sebuah model yang menjanjikan peningkatan pendapatan sekaligus melindungi lingkungan.

Padi adalah tulang punggung ekonomi pertanian Kamboja, berfungsi sebagai makanan pokok bagi lebih dari 15 juta orang dan dibudidayakan di sekitar 3 juta hektar di seluruh negeri.

Namun, selama beberapa generasi, banyak petani tetap bergantung pada pola cuaca yang tidak dapat diprediksi, dibatasi oleh akses terbatas terhadap pendanaan, teknologi, dan keahlian teknis.

Kini, para ilmuwan dari Universitas Kelautan Shanghai di Tiongkok memperkenalkan solusi berkelanjutan yang terinspirasi oleh sistem Sungai Lancang-Mekong: budidaya padi-udang bersama.

Model ini memanfaatkan musim hujan alami Kamboja, yang berlangsung dari Juni hingga Oktober. Selama bulan-bulan itu, sawah sering terendam banjir, memaksa petani untuk bergantung pada penangkapan spesies perairan liar untuk menambah penghasilan mereka.

Meskipun praktik ini memasok sekitar 60 persen makanan berbasis ikan dan udang untuk rumah tangga pedesaan setempat, kurangnya pengelolaan ilmiah telah menyebabkan hasil panen tetap rendah baik untuk beras maupun produk perairan.

"Kamboja memiliki musim hujan alami, dengan curah hujan harian dari sekitar Juni hingga Oktober setiap tahun. Dalam kondisi ini, budidaya padi-udang dan rotasi padi-udang sangat cocok untuk negara ini. Itulah mengapa kami ingin menggabungkan kedua pendekatan tersebut, memastikan pasokan beras sekaligus memproduksi udang sungai raksasa yang populer," ujar Profesor Wu Xugan dari Universitas Kelautan Shanghai.

Budidaya padi-udang adalah model pertanian ekologis yang memungkinkan penanaman padi dan budidaya perairan untuk hidup berdampingan di ruang air yang sama. Udang membantu melonggarkan tanah, mengendalikan hama, dan menyediakan pupuk alami untuk padi, sementara padi memurnikan air dan memberikan naungan bagi udang.

Hasilnya lebih dari sekadar pertanian yang cerdas. Lahan digunakan lebih efisien, pupuk kimia dan pestisida dikurangi, dan satu lahan dapat menghasilkan dua panen sekaligus.

"Sistem budidaya padi-udang saat ini terutama diterapkan di Provinsi Takeo, melibatkan 52 rumah tangga petani dan mencakup sekitar 50 hektar lahan. Hasil keseluruhannya positif. Pendapatan mereka meningkat sekitar 3.000 dolar AS (sekitar 50 juta rupiah) per hektar," kata Wu.

Petani lokal juga telah secara aktif menerapkan teknik pertanian baru tersebut.

"Jika dihitung per tahun, kita bisa menjual udang sekitar 17 dolar AS (sekitar 286 ribu rupiah) per kilogram. Itu setara dengan pendapatan tahunan sebesar 17.000 dolar AS (sekitar 286 juta rupiah). Dengan cara ini, keuntungannya lebih tinggi daripada hanya menanam padi," ungkap Sab Sarun, seorang petani lokal.