Beijing, Bharata Online - Tiongkok siap berperan sebagai pendorong pembangunan dan revitalisasi Afrika, dan mengundang semua negara Afrika untuk ikut serta dalam laju pembangunan yang pesat guna bersama-sama mencapai modernisasi, kata Mao Ning, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada hari Selasa (13/1).

Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, baru saja menyelesaikan kunjungan enam harinya ke markas besar Uni Afrika, Ethiopia, Tanzania, dan Lesotho pada hari Senin (12/1), menandai tahun ke-36 berturut-turut menteri luar negeri Tiongkok memilih Afrika sebagai tujuan luar negeri pertama di tahun baru.

Pada konferensi pers reguler di Beijing, Mao Ning menggarisbawahi makna simbolis dan strategis dari tradisi diplomatik yang telah berlangsung lama ini.

"Seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Wang Yi, ini menandai tahun ke-36 berturut-turut menteri luar negeri Tiongkok memilih Afrika sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertama mereka di tahun baru, sebuah bukti persahabatan yang mendalam antara rakyat Tiongkok dan Afrika, yang mencerminkan komitmen yang teguh dan tradisi diplomatik yang berharga. Sementara beberapa orang menggambarkan Afrika sebagai benua yang 'terlupakan', Tiongkok melihatnya sebagai tanah yang penuh harapan, dan memilih Afrika sebagai perhentian pertama kalender diplomatik tahunannya. Prinsip-prinsip ketulusan, hasil nyata, kedekatan, dan itikad baik, yang dikemukakan oleh Presiden Xi Jinping, selalu membimbing kerja sama Tiongkok dengan Afrika, dengan ketulusan dan kesetaraan sebagai landasan pertukaran Tiongkok-Afrika. Tiongkok dan Afrika adalah mitra yang baik yang dapat saling percaya dan berempati," jelas Mao.

"Selama kunjungan tersebut, Menteri Luar Negeri Wang Yi memperkenalkan rekomendasi untuk Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok (2026–2030), yang diadopsi pada Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 Partai Komunis Tiongkok. Beliau menekankan bahwa rencana tersebut tidak hanya memetakan cetak biru untuk pembangunan masa depan Tiongkok, tetapi juga berfungsi sebagai 'daftar peluang' bagi negara-negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara di Afrika. Wang menekankan bahwa Tiongkok akan terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global, dan siap bertindak sebagai pendorong bagi pembangunan dan revitalisasi Afrika," ungkapnya.

Sebelumnya, Tiongkok mengumumkan akan menerapkan perlakuan tarif nol untuk semua 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, sebuah langkah yang digambarkan Mao sebagai 'kartu panggilan emas' kerja sama Tiongkok-Afrika di era baru.

"Istilah yang paling sering disebutkan oleh para pejabat Afrika adalah 'tarif nol'. Langkah ini merupakan 'kartu nama emas' kerja sama Tiongkok-Afrika di era baru dan merupakan langkah besar dalam perluasan proaktif Tiongkok terhadap keterbukaan unilateral. Ini menunjukkan kesediaan Tiongkok untuk memikul kewajiban internasional yang lebih besar dan komitmen teguhnya untuk memajukan keterbukaan berstandar tinggi. Pasar Tiongkok yang luas akan benar-benar menjadi peluang besar bagi Afrika. Kami menyambut semua negara Afrika untuk menaiki kereta ekspres pembangunan Tiongkok untuk bersama-sama mencapai modernisasi," ujar Jubir tersebut.