Moskow, Radio Bharata Online - Umat manusia saat ini berada dalam dunia multipolar dan Tiongkok dan Rusia telah menjadi promotor aktif dalam mewujudkan multipolarisasi dunia secara adil dan teratur, kata seorang pejabat senior Duma Negara Rusia pada hari Senin (13/5) lalu.
Wakil Ketua Duma Negara Rusia, Alexander Babakov, mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan China Global Television Network (CGTN) di Moskow bahwa kedua kepala negara memiliki posisi yang sama dalam mempromosikan tata kelola global untuk berkembang ke arah yang lebih adil dan masuk akal, dan telah berhasil menciptakan berbagai platform kerja sama regional dan global untuk proses multipolarisasi.
"Kita harus terbuka terhadap dunia dan meninggalkan segala hegemoni dalam hubungan antar negara, menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan keamanan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menentukan nasib negara lain, serta menghapuskan segala bentuk diskriminasi. Baik itu prinsip kejujuran dan keadilan di bidang ideologi, politik, maupun ekonomi, para pemimpin Rusia dan Tiongkok memiliki posisi yang sama dalam aspek-aspek tersebut. Presiden Putin dan Presiden Xi Jinping telah berkali-kali menyatakan bahwa umat manusia akan berada di dunia multi-kutub sekarang dan di masa depan. Implikasi utama dari pandangan ini adalah bahwa tidak dapat diterima jika suatu negara atau subjek tertentu menduduki posisi dominan dalam hubungan internasional," ujar Babakov.
"Saat ini, multipolaritas ini ditunjukkan secara luas. Dengan munculnya lembaga-lembaga penting seperti Organisasi Kerjasama Shanghai dan BRICS. Khusus untuk mekanisme BRICS, semakin banyak negara yang menyadari bahwa dalam dunia yang multipolar, mekanisme kerja sama BRICS tidak dimaksudkan untuk berkonfrontasi dengan siapa pun, tetapi untuk melayani negara-negara yang ingin memperkuat kerja sama dan pembangunan bersama, serta mereka yang tertarik dengan keyakinan dan tindakan mekanisme tersebut," katanya.