New York, Bharata Online - Tiongkok menyerukan semua pihak untuk menghindari kata-kata provokatif dan tindakan militer yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut, saat Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada hari Kamis (2/7) di tengah ketegangan AS-Iran yang kembali meningkat.

Fu Cong, Perwakilan Tetap Tiongkok untuk PBB, mencatat bahwa babak baru serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini telah meluas ke target di Bahrain dan Kuwait.

Ia menegaskan kembali bahwa Tiongkok selalu menyerukan semua pihak untuk mematuhi tujuan dan prinsip Piagam PBB, dan menolak penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional.

Fu mendesak semua pihak untuk tetap tenang dan menahan diri, menghindari retorika yang mengancam dan petualangan militer, serta menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat meningkatkan ketegangan lebih lanjut.

Ia juga menekankan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial semua negara di Timur Tengah harus dihormati, dan bahwa warga sipil dan target non-militer harus dilindungi.

"Tiongkok menyambut baik dimulainya konsultasi lanjutan mengenai nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran, yang difasilitasi oleh Pakistan dan Qatar, serta konsensus yang dicapai mengenai mekanisme negosiasi tahap selanjutnya. Fakta telah berulang kali menunjukkan bahwa politik kekuatan dan kekuasaan tidak dapat menyelesaikan masalah — dialog dan negosiasi adalah satu-satunya jalan yang benar. Dengan upaya bersama dari semua pihak, konflik akhirnya beralih ke dialog. Namun gencatan senjata tetap rapuh, dan apakah perdamaian sejati dapat dicapai akan bergantung pada upaya berkelanjutan dari semua pihak," ujar Fu.

Ke depan, Tiongkok telah mengajukan tiga usulan.

Pertama, memperkuat gencatan senjata penuh. AS dan Iran harus menunjukkan ketulusan maksimal, dengan setia melaksanakan nota kesepahaman, mempertahankan momentum negosiasi, dan berupaya mencapai kesepakatan komprehensif yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, negara-negara di kawasan, dan komunitas internasional.

Kedua, memulihkan navigasi normal melalui Selat Hormuz sesegera mungkin. Jalur yang aman dan bebas sangat penting untuk stabilitas rantai pasokan global dan melayani kepentingan bersama kawasan dan sekitarnya.

Ketiga, meningkatkan hubungan antar negara di kawasan. Timur Tengah, termasuk Teluk, seharusnya tidak lagi menjadi arena persaingan kekuatan besar atau korban manuver geopolitik.

Fu mengatakan, Tiongkok akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memainkan peran konstruktif dalam memajukan solusi politik terhadap titik-titik konflik regional dan menjaga perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah.