Jakarta, Radio Bharata Online - Aplikasi media sosial TikTok membentuk kembali pasar online Indonesia dan memberikan dukungan kepada usaha kecil dengan menginvestasikan 1,5 miliar dolar AS (sekitar 23,6 triliun rupiah) untuk mengambil alih saham mayoritas di platform e-commerce Indonesia, Tokopedia.

Investasi ini merupakan ekspansi yang berani ke sektor belanja online untuk TikTok dan menjanjikan untuk mengubah lanskap e-commerce di Indonesia.

"Kolaborasi Tokopedia dengan TikTok bertujuan untuk memberdayakan UKM lokal di Indonesia, dan membantu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui jalur digital. Pada prinsipnya, TikTok akan menjadi platform untuk menampilkan berbagai produk kepada konsumen. Pembayaran akan diproses oleh Tokopedia. Selama masa uji coba, kami akan melakukan migrasi sistem backend TikTok ke Tokopedia dan kami akan memastikan pengalaman yang mulus di antarmuka riset kami," kata Aditia Grasio Nelwan, Head of Communications Tokopedia.

Felicia Fiyoza menjual barang-barang unik yang berasal dari Tiongkok di toko online-nya, menjangkau ratusan pelanggan setiap hari melalui siaran langsung di TikTok. Ia mengatakan bahwa penggabungan TikTok dengan Tokopedia akan membantu bisnisnya berkembang.

"Saya sangat optimis dengan penggabungan ini. Saya bisa melakukan siaran langsung lagi untuk menjual produk kami. Saya pernah mencoba siaran langsung di platform lain, tapi jangkauannya tidak seluas TikTok," kata Fiyoza.

Beberapa ahli mengatakan bahwa investasi TikTok adalah sebuah game-changer karena akan mengintegrasikan dua ekosistem digital yang populer untuk menyuntikkan energi ke dalam pasar e-commerce yang sedang berkembang di Indonesia.

"Data menunjukkan bahwa pengguna Indonesia lebih suka berbelanja di aplikasi media sosial. Ini termasuk aplikasi lain selain TikTok. Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam cara orang berbelanja dalam beberapa tahun terakhir. Inilah yang membedakan TikTok dengan kompetitor lainnya, mereka mampu menawarkan apa yang konsumen cari di zaman sekarang," kata Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (CELIOS).