Jakarta, Bharata Online - Sobat Bharata, bercerita tentang pengalaman menonton film dokumenter Jendela Antariksa - Shenzhou 13, yang tayang perdana di Indonesia, tepatnya di Flix Cinema, Mall of Indonesia, Jakarta Utara, pada 26 November 2025, penulis meraskan, begitu film dimulai, terasa jelas bahwa ini bukan sekadar dokumentasi misi luar angkasa, melainkan potret paling jujur dan paling manusiawi dari kehidupan para astronaut Tiongkok selama enam bulan mengorbit bumi.
Film ini membawa kita masuk ke rutinitas para astronaut dengan kedekatan yang jarang terlihat. Menurut penulis, justru hal-hal kecil seperti makan, merapikan barang, atau sekadar minum air menjadi momen yang paling membuka mata. Tanpa gravitasi, setiap benda yang lepas-bahkan sepotong kecil remah makanan, bisa melayang dan menjadi risiko kontaminasi. Lebih jauh lagi, fakta bahwa air minum berasal dari daur ulang keringat hingga urine menegaskan betapa setiap tetes di orbit memiliki nilai yang sangat tinggi. Tidak ada ruang untuk kelalaian, semua harus presisi, semua harus disiplin.
Di sisi yang lebih emosional, penonton juga diajak melihat momen ketika para astronaut menyempatkan diri menelepon keluarga. Namun bahkan dalam momen personal ini, pekerjaan tetap berjalan. Ritme hidup mereka begitu padat hingga tidak ada satu detik pun yang benar-benar “luang”. Menurut penulis, bagian ini adalah salah satu representasi paling kuat tentang harga yang harus dibayar oleh seseorang ketika tugasnya berada jauh dari bumi.
Tak kalah memukau, film ini memperlihatkan keindahan fenomena alam dari perspektif yang hampir mustahil dilihat manusia biasa. Bayangkan, sobat Bharata: 16 kali matahari terbit dan terbenam setiap hari. Dengan orbit 90 menit, stasiun luar angkasa menjadi panggung dari siklus cahaya yang begitu dramatis. Sinematografinya membuat penulis seolah sedang berdiri di jendela stasiun, menatap bumi yang berputar di bawah dengan keindahan yang sulit digambarkan kata-kata.
Puncak ketegangan film ini tentu berada di bagian operasi EVA - momen ketika para astronaut keluar dari kabin dengan bantuan lengan mekanik. Setiap gerakan terekam begitu detail, membuat penonton ikut menahan napas. Film ini juga memberi ruang khusus untuk tiga astronaut Shenzhou-13: Zhai Zhigang, Ye Guangfu, dan terutama Wang Yaping, perempuan Tiongkok pertama yang melakukan spacewalk. Menurut penulis, cara film menggambarkan Wang Yaping sungguh menyentuh. Bukan hanya sebagai astronaut, tetapi sebagai simbol harapan bagi jutaan perempuan di seluruh dunia.
Momen-momen hangat juga tidak dilupakan. Ada adegan mereka memotong rambut satu sama lain, berolahraga, dan tetap memakai pakaian merah saat Tahun Baru Imlek. Salah satu adegan paling menyentuh adalah ketika anak seorang astronaut tampil dalam siaran langsung, berbicara kepada orang tuanya yang sedang berada ribuan kilometer di atas bumi. Sederhana, tapi sangat kuat secara emosional.
Film ini juga menghadirkan eksperimen-eksperimen fisik yang hanya bisa terjadi di kondisi mikrogravitasi - air yang membentuk gelembung sempurna, tablet effervescent yang menciptakan cincin-cincin menakjubkan. Penjelasan dari Wang Yaping, dengan gaya bicaranya yang sangat edukatif, membuat tiap eksperimen terasa hidup dan mudah dipahami. Menurut penulis, bagian ini menjadi nilai tambah karena film tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga mengajarkan sains dengan cara yang menyenangkan.
Pada akhirnya, Jendela Antariksa Shenzhou-13 bukan hanya tentang teknologi luar angkasa. Film ini adalah pengingat bahwa manusia, dengan segala keterbatasannya, tetap mampu menghadapi lingkungan paling ekstrem sekalipun. Setiap langkah kecil di orbit adalah pembuktian atas kecerdasan, keberanian, dan ketahanan manusia.
Dengan visual yang elegan, narasi yang menyentuh, serta tokoh-tokoh yang penuh inspirasi, film ini layak disebut sebagai salah satu dokumenter ruang angkasa terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Menurut penulis, film ini tidak sekadar mengangkat kisah eksplorasi luar angkasa, tetapi juga menghadirkan gambaran betapa kuatnya hati manusia yang tetap hangat, bahkan ketika berada jauh dari bumi.