Beijing, Bharata Online - Menurut Genevieve Pons, Direktur Jenderal Europe Jacques Delors, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Brussels yang terinspirasi oleh visi dan warisan Jacques Delors, mantan Presiden Komisi Eropa (EC), Tiongkok dan Eropa harus bekerja sama secara erat untuk melindungi lautan dunia.

Dengan bekerja sama, Tiongkok dan Eropa dapat membuat kemajuan dalam dekarbonisasi perdagangan maritim global, kata Pons dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan China Global Television Network (CGTN) di Beijing.

"Saya pikir ada potensi yang sangat besar untuk kerja sama antara Tiongkok dan Eropa. Sekitar 15 persen perdagangan barang global terjadi antara Tiongkok dan Eropa. Jadi, jika kita berhasil bersama-sama mendekarbonisasi transportasi maritim, yang berarti transportasi antar pelabuhan yang memiliki teknologi yang sama, atau setidaknya teknologi yang diakui oleh kedua belah pihak, kita akan membuat kemajuan besar ke arah yang benar," ujarnya.

Pons menekankan perlunya kerja sama bilateral yang berkelanjutan dalam memerangi polusi plastik di lautan.

"Jelas, kita juga harus bekerja sama dalam hal plastik, karena 80 persen plastik berakhir di laut. Tiongkok juga telah menjadi pendukung besar perlindungan laut dengan komitmen Kunming-Montreal untuk melindungi 30 persen lautan pada tahun 2030. Tiongkok juga telah berkontribusi pada penandatanganan dan ratifikasi Perjanjian Laut Lepas. Dan Perjanjian Laut Lepas ini dapat diberlakukan berkat, antara lain, Tiongkok dan negara-negara Eropa. Sekarang, perjanjian ini harus diimplementasikan," katanya.

Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal atau Global Biodiversity Framework (GBF) diadopsi pada Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati pada tahun 2022.

Kerangka kerja tersebut terdiri dari target global yang harus dicapai pada tahun 2030 dan seterusnya untuk melindungi keanekaragaman hayati.

Pons juga menekankan perlunya bekerja sama dengan Tiongkok dalam melindungi Samudra Antartika.

"Terakhir, ada aspek ketiga di mana orang berbicara tentang perlindungan dan tentang lautan, dan itu adalah Samudra Antartika. Samudra ini memiliki 90 persen es di dunia; memiliki 70 persen air tawar di dunia. Ini adalah arus yang sangat besar yang dapat memberi makan seluruh planet dan untuk melindungi samudra ini, kita membutuhkan Tiongkok," ujarnya.